Hitung-Hitung Dividen, Menteri Erick Thohir Sedang Pertimbangkan Telkomsel Jadi BUMN

0
497
Reporter: Yehezkiel Sitinjak

Menteri Badan Usaha Milik Negara BUMN Erick Thohir mengakui bahwa PT Telekomunikasi Seluler atau Telkomsel berkontribusi sebesar 70% dari dividen dan revenue perusahaan induknya, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau Telkom.

Erick mengatakan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan pengambilalihan Telkomsel oleh pemerintah agar arus dividen kepada negara lebih jelas.

“Enak sih Telkom, Telkomsel dividen dan revenue-nya kalau digabung hampir 70%, jadi mendingan gak ada Telkom. Langsung aja Telkomsel ke BUMN, dividennya jelas,” kata Erick saat memberi sambutan di acara Program Magang Mahasiswa Bersertifikat BUMN di Menara Mandiri, Jakarta, belum lama ini.

Erick juga mendorong Telkom melakukan perubahan dari segi bisnisnya untuk berfokus pada teknologi terkini, terutama di sektor database dan teknologi komputasi awan (cloud computing) sehingga dapat bersaing dan menggantikan peran dari perusahaan teknologi asing seperti halnya Alibaba Cloud yang merupakan anak usaha dari Alibaba Group. Erick menilai potensi dari teknologi awan ini sangat besar dalam menyimpan dan mengelola data serta memanfaatkan data untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas BUMN.

Baca Juga :   Tugu Insurance Menggandeng Telkomsel untuk Proteksi Pengguna Layanan International Roaming

“Makanya kita mau Telkom berubah arah. Salah satunya ke database big data, dan cloud. Masa cloud-nya dipegang Alibaba Cloud. Dengan database segede kita, database besar yang dibilang ‘new oil’ ini masa diambil negara lain?” tandas Erick.

Pada era disrupsi saat ini, lanjut Erick, jajaran direksi dari perusahaan-perusahaan BUMN ini tidak boleh anti perubahan, terutama yang disebabkan oleh perkembangan teknologi. Pasalnya jika mereka tidak melihat aspek teknologi sebagai komponen terpenting maka akan berat bagi perusahaan tersebut.

Telkomsel, dikatakan Erick, dicontohkan sebagai salah satu perusahaan berpelat merah yang cocok untuk dimasukkan dalam klaster BUMN yang berorientasi murni pada bisnis. Pasalnya menurut Erick, Telkomsel tidak pernah menerima subsidi dari Pemerintah. Maka dari itu Erick menekankan bahwa ia bersama dengan timnya akan lanjut melakukan pemetaan terkait BUMN-BUMN mana saja yang akan masuk pada klaster bisnis, yang berbisnis tapi memerlukan subsidi, kemudian yang bisnisnya lebih berfokus pada memberi dampak besar bagi masyarakat (public service).

Baca Juga :   Targetkan Bayar Nasabah Jiwasraya Bulan Maret, Menteri BUMN Tunggu 3 Regulasi

“Di Indonesia, public service itu penting makanya kita mapping mana BUMN yang masuk dalam klaster bisnis banget. Misal Telkomsel, yang saya rasa gak kenal subsidi. Ada juga klaster yang harus berbisnis tapi juga ada subsidi kayak PT PLN, PT Pertamina, dan PT Bank BRI yang ditugaskan KUR (kredit usaha rakyat), adapun BUMN yang memang public service-nya besar seperti PT Pupuk Indonesia, dan Bulog,” kata Erick.

Sedangkan bagi BUMN yang tidak memiliki arah bisnis yang jelas, perlu dilakukan konsolidasi dengan BUMN lainnya atau bahkan melakukan opsi likuidasi. “Karena gak mungkin, siapapun menterinya bisa manage 900 perusahaan,” tutup Erick.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics