Telkom Pangkas Jumlah Anak Usaha, dari 60 Jadi Hanya 20 Perusahaan Strategis
Kantor pusat Telkom Indonesia/Dok. Telkom
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tengah melaksanakan langkah besar dalam restrukturisasi portofolio bisnis. Perseroan berencana memangkas jumlah anak usaha dari lebih dari 60 entitas menjadi hanya sekitar 20 perusahaan yang benar-benar strategis.
Wakil Direktur Utama Telkom Indonesia, Muhammad Awaluddin, dalam Public Expose Live Jumat (12/9), menegaskan perampingan anak usaha ini merupakan strategi untuk meningkatkan fokus bisnis sekaligus memperkuat fundamental perusahaan.
“Telkom hari ini sedang melakukan berbagai upaya untuk melakukan streamlining anak usaha. Jadi ada lebih dari 60 anak usaha, dan harapan kita nanti kurang lebih sekitar 20-an saja anak usaha yang benar-benar strategis dan akan kita pertahankan,” kata Awaluddin.
Menurutnya, langkah ini bukan sekadar efisiensi, tetapi bagian dari transformasi Telkom menjadi holding digital infrastructure dengan margin lebih sehat dan valuasi yang lebih menjanjikan.
“Artinya bagi pemegang saham, ke depan ini Telkom bukan hanya sekedar fokus di tradisional Telko saja, tapi juga akan berupaya menjadi holding digital infrastructure dengan margin yang lebih sehat dan itu memberikan kontribusi dividen yang tetap tinggi. Di sisi lain, prospek valuasinya akan terus menjadi lebih baik,” ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyampaikan bahwa perampingan anak usaha ini sejalan dengan arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia). Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (2/7), Dian menjelaskan evaluasi dilakukan terhadap anak maupun cucu perusahaan yang dalam lima tahun terakhir minim kontribusi.
“Kalau ada perusahaan yang dalam lima tahun terakhir tidak memberikan value, itu tentu yang akan mulai untuk di-swap,” ungkap Dian.
Perampingan juga ditempuh dengan penggabungan entitas, baik di dalam Telkom Group maupun bersama anak usaha BUMN lain. “Misalnya ada anak perusahaan properti, itu bisa digabung dengan properti dari anak perusahaan BUMN yang lain,” jelasnya.
Perkuat Fundamental lewat Infrastruktur Digital
Selain melakukan perampingan, Telkom juga menyiapkan strategi penguatan fundamental melalui optimalisasi aset dan ekspansi bisnis digital. Salah satunya adalah pemisahan aset fiber ke Infranexia atau Infraco agar dapat digunakan lebih optimal, tidak hanya oleh Telkomsel tetapi juga pihak lain dan operator berlisensi.
“Harapan kami ini akan meningkatkan utilisasi dan sekaligus menaikkan valuasi dari aset tersebut,” ujar Awaluddin.
Telkom juga menggarap bisnis pusat data (data center) dengan menggandeng mitra lokal maupun global. Fokus pengembangan ada di Batam dan Cikarang untuk menangkap potensi permintaan dari Singapura dan kawasan regional.
Selain itu, bisnis kabel bawah laut atau subsea cable communication system (SKKL) juga menjadi prioritas. Infrastruktur subsea cable Telkom saat ini mencatat utilisasi tinggi dan berpotensi besar untuk melayani permintaan dari pemain global, termasuk hyperscaler, penyedia layanan cloud, dan konten digital.