Kalbe Farma Perkuat Ekspansi Bisnis dari Nutrisi hingga Alat Kesehatan Lokal

0
153

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memaparkan serangkaian strategi ekspansi dan inovasi bisnis untuk menjaga pertumbuhan di tengah tekanan pasar. Perseroan sudah menyiapkan fasilitas produksi radioisotop untuk deteksi kanker, memperkuat portofolio nutrisi melalui diversifikasi produk lifestyle, serta mengembangkan produksi alat kesehatan lokal. Di sisi lain, Kalbe juga menggenjot efisiensi dan manajemen risiko guna menjaga margin keuntungan.

Direktur Keuangan Kalbe Farma, Kartika Setiabudy, menyampaikan bahwa di sisa tahun 2025 ini perseroan tengah menuntaskan pembangunan dua fasilitas produksi radioisotop Fluorodeoxyglucose (FDG) di Jakarta dan Surabaya. Produk ini digunakan untuk mendukung diagnosis kanker sejak dini.

“Saat ini untuk (pabrik di) Jakarta sudah bisa dikatakan hampir selesai semua, dan untuk Surabaya harusnya dalam beberapa bulan ini juga akan bisa diselesaikan,” kata Kartika dalam acara Public Expose Live 2025, Jumat (12/9).

Dari sisi belanja modal, Kalbe menargetkan capex Rp1 triliun pada 2025. Hingga pertengahan tahun, realisasi sudah mencapai sekitar Rp400 miliar. “Perkiraan kita untuk tahun ini tentunya tidak akan melebihi dari target Rp1 triliun tadi,” ujarnya.

Manajemen Kalbe menurunkan proyeksi pertumbuhan 2025 menjadi 6–8%, lebih rendah dari target awal, seiring tekanan pada bisnis nutrisi. Data menunjukkan pasar susu bubuk nasional mengalami kontraksi hingga -9%.

Baca Juga :   Kalbe Farma Gratiskan 8.000 Tes PCR per Bulan

Saat ini, jelas Kartika, divisi nutrisi Kalbe masih fokus pada produk-produk susu bubuk serta produk yang mempunyai fungsi-fungsi kesehatan.

“Ke depan kita ingin menyesuaikan portofolio kita supaya menjadi lebih berimbang dengan beberapa produk-produk yang kita sebut sebagai produk lifestyle atau produk-produk yang bisa dikonsumsi secara luas. Contohnya produk dari sisi beverage, misalnya seperti produk air kelapa kita, Hydro Coco. Lalu kita juga punya produk yang healthy snack bar seperti Fit Bar. Produk-produk semacam ini meski dalam kondisi pasar yang cukup menantang, masih menunjukkan pertumbuhan yang positif,” ujarnya.

Karena itu, tambahnya, ke depan Kalbe akan mencoba menyeimbangkan portofolio produk antara produk-produk dari sisi dairy atau susu bubuk ke produk-produk yang lebih bersifat lifestyle, termasuk produk liquid atau ready-to-drink milk.

“Pada saat yang bersamaan kita sudah banyak melakukan kampanye-kampanye baru untuk memperkuat brand equity dari produk-produk kita di bidang nutrisi dan juga untuk produk kesehatan. Tentunya dengan adanya kampanye baru ini harapannya kita bisa memperkuat image dan positioning dari produk-produk kita di pasar. Kita melakukan dengan cara komunikasi yang lebih relevan dengan pasar, lebih bersifat emosional dan aspiratif. Dan harapannya ini bisa memperkuat persepsi dan brand equity produk-produk Kalbe di pasar,” ujarnya.

Baca Juga :   Vaksin Covid-19 Buatan Kalbe Farma dan Perusahaan Korea Selatan Ditargetkan Digunakan Pertengahan Tahun Depan

Tantangan Impor Alkes dan Strategi Lokal

Terkait kebijakan bebas tarif impor alat kesehatan dari AS, Kalbe menyatakan tetap percaya diri. Perusahaan menegaskan komitmennya memperkuat produksi alat kesehatan dalam negeri sebagai bagian dari ketahanan kesehatan nasional.

“Kami sejauh ini sangat mendukung upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia, terutama dari sisi alat kesehatan, sehingga yang sebelumnya business model kami adalah berfokus pada impor dan melakukan pemasaran di Indonesia, kita mencoba memperkuat ke arah merakit atau melakukan manufacturing atau produksi alat kesehatan lokal di Indonesia. Ini merupakan bagian dari upaya kami untuk berkontribusi meningkatkan ketahanan kesehatan Indonesia,” jelas Kartika.

Di lini bisnis alat kesehatan, sambungnya, Kalbe sudah mulai dengan beberapa proyek. Salah satunya adalah benang bedah, di mana Kalbe sudah memiliki pabrik untuk memproduksi benang bedah secara lokal.

Selain itu, Kalbe juga melakukan berbagai proyek dengan berbagai mitra dari luar negeri untuk mulai melakukan perakitan medical equipment untuk pasar Indonesia.

“Dengan adanya gejolak tarif yang baru-baru ini terjadi, kita melihat bahwa kami akan tetap melakukan inisiatif ini, karena memang ini merupakan bagian dari strategi kami untuk membangun kompetensi di bidang alat kesehatan,” ujarnya.

Baca Juga :   Laba Bersih Turun 16,9% pada Januari-September, Kalbe Optimistis  Kinerja Tetap Positif ke Depan

Kalbe, jelas Kartika, mampu bekerja sama dengan banyak mitra dari luar negeri, termasuk juga mitra dari Amerika Serikat yaitu GE Healthcare untuk melakukan perakitan atau assembly produk CT Scan machines.

“Jadi memang kita kembalikan kepada tujuan utamanya di mana kita ingin membangun kemampuan untuk melakukan produksi alat kesehatan secara lokal,” ujarnya.

Jaga Margin dengan Efisiensi dan Manajemen Risiko

Untuk menjaga pertumbuhan margin laba bersih, Kalbe mengandalkan kombinasi strategi: peningkatan penjualan, efisiensi produksi, dan pengelolaan risiko nilai tukar. Perseroan kini melakukan pembelian bahan baku melalui joint venture di Tiongkok menggunakan mata uang renminbi, guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Selain itu, perusahaan juga menekankan efektivitas biaya pemasaran dengan lebih banyak berinvestasi pada brand equity jangka panjang, bukan hanya promosi jangka pendek.

“Kami ingin pertumbuhan yang berkelanjutan, baik dari sisi pendapatan maupun margin,” tutup Kartika.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics