Tren Ekonomi Positif, Didik Rachbini Ingatkan Pemerintah Soal Kredibilitas Kebijakan

0
17

Didik J. Rachbini yang menjabat Rektor Universitas Paramadina menilai perkembangan ekonomi nasional menunjukkan tren yang semakin positif seiring meredanya tekanan eksternal dan semakin terjaganya disiplin fiskal pemerintah.

Menurut Didik, membaiknya sentimen pasar tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah dan pasar saham yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor penting yang memengaruhi perbaikan tersebut berasal dari kondisi global, terutama menurunnya harga minyak dunia akibat meningkatnya harapan tercapainya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

“Ada berita baik harga minyak Brent terus menurun. Harga minyak pada puncak krisis perang mencapai 120 dollar AS per barrel dan kini sudah turun lagi sekitar 4% menjadi 80 dollar AS per barrel,” kata Didik dalam keterangannya.

Ia menambahkan bahwa penurunan harga minyak tersebut dipicu oleh perkembangan positif hubungan Amerika Serikat dan Iran yang mulai mengarah pada kesepakatan damai. Kondisi tersebut membuka peluang normalisasi kembali aktivitas perdagangan energi global, termasuk di Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi sumber gangguan pasokan minyak dunia.

Baca Juga :   Gelar ICMSS ke-25, FEB UI Dorong Peningkatan Literasi Keuangan Generasi Muda

Selain faktor global, Didik menilai kondisi fiskal Indonesia hingga pertengahan tahun masih berada dalam kondisi yang relatif sehat. Ia mengatakan bahwa kritik mengenai disiplin fiskal perlu dilihat berdasarkan data yang tersedia.

“Jika saya lihat dari laporan yang ada, dalam pandangan saya kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan dan pengeluaran masih dalam toleransi yang memadai, terutama dalam defisit yang terjadi sampai tengah tahun sekarang ini,” katanya.

Menurutnya, defisit fiskal hingga Mei 2026 masih terjaga di kisaran 0,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga masih memberikan ruang yang cukup aman bagi pemerintah dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Didik juga menilai pemerintah mulai melakukan penyesuaian terhadap sejumlah program prioritas, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mencatat bahwa pemerintah telah menurunkan alokasi anggaran program tersebut menjadi sekitar Rp268 triliun dan diperkirakan masih akan dilakukan efisiensi lebih lanjut melalui fokus pelaksanaan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dari sisi penerimaan negara, Didik melihat adanya perkembangan yang cukup menggembirakan. Pendapatan negara hingga Mei 2026 meningkat sekitar 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan total penerimaan mencapai Rp1.185 triliun.

Baca Juga :   APBN Kita hingga November 2022 Capai Rp 2.377,5 T atau Naik 39,9%

Di sisi belanja negara, Didik menilai pemerintah memang sedang memperbesar peran negara melalui berbagai program sosial dan ketahanan pangan. Ia mencatat peningkatan belanja untuk ketahanan pangan mencapai 76% secara tahunan, termasuk dukungan terhadap petani, subsidi pupuk, dan penguatan cadangan pangan nasional melalui BULOG.

Sementara itu, belanja subsidi dan kompensasi meningkat tajam hingga 208 persen secara tahunan, termasuk realisasi Program Makan Bergizi Gratis yang telah mencapai Rp86,6 triliun sepanjang hampir satu semester pertama tahun ini.

Meski demikian, Didik memperkirakan realisasi anggaran MBG pada semester kedua tidak akan meningkat secara signifikan karena adanya kebijakan efisiensi dan fokus pelaksanaan di daerah 3T.

Secara keseluruhan, ia optimistis persepsi pasar terhadap ekonomi Indonesia akan terus membaik apabila pemerintah mampu menjaga konsistensi kebijakan fiskal dan memperkuat komunikasi publik.

Didik juga mengingatkan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan. Menurutnya, jika pasar melihat konsistensi kebijakan, tata kelola fiskal dan pemerintahan yang baik, dan komunikasi pemerintah yang kredibel, maka kepercayaan lambat laun akan pulih.

Leave a reply

Iconomics