Ekspor Baja Terus Mengalir ke Amerika Serikat di Tengah Proteksionisme Negeri Uncle Sam
Jajaran Kementerian Perindustrian, Direksi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., PT Krakatau Baja Industri, dan PT Tata Metal Lestari saat pelepasan ekspor produk baja ke Amerika Serikat/Dok, KS
PT Tata Metal Lestari mengirimkan ekspor baja lapis ke pasar Amerika Serikat (AS) dengan volume sebesar 10.000 ton atau senilai US$12,6 juta. Saat Pelepasan Ekspor Produk Baja Lapis PT Tata Metal Lestari ke Amerika Serikat, di Pelabuhan Tanjung Priok, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti pentingnya kolaborasi antara PT Tata Metal Lestari sebagai pelaku industri hilir dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. selaku penyedia bahan baku dari sektor hulu.
“Sinergi ini mencerminkan kekuatan ekosistem industri baja nasional yang solid dan mampu menjawab tantangan serta peluang pasar global,” kata Menperin Agus dalam keterangannya.
Ia menekankan bahwa kunci penguatan ekonomi nasional terletak pada kemampuan industri untuk menciptakan nilai tambah serta membangun jejaring hulu-hilir yang kuat, berkelanjutan, dan inklusif. Ia mendorong pelaku industri besi dan baja untuk terus meningkatkan kualitas produksi dan berinovasi menciptakan produk bernilai tambah tinggi serta ramah lingkungan.
Menperin sangat mengapresiasi ekspor baja yang dilakukan ke AS. Menteri Agus Gumiwang menyatakan meskipun tarif impor baja di AS bisa mencapai 50%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata tarif produk lain yang berkisar 19%, AS tetap bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan baja lapisnya.
“Ini menjadi celah yang berhasil dimanfaatkan oleh industri nasional. Amerika tetap membutuhkan baja lapis, dan Indonesia mampu menyediakannya dengan kualitas tinggi,” kata Menperin.
PT Tata Metal Lestari mengirimkan ekspor baja lapis ke pasar AS dengan volume sebesar 10.000 ton senilai US$12,6 juta. Sepanjang tahun 2025, perusahaan menargetkan ekspor mencapai 69.000 ton, naik 133% dibandingkan realisasi tahun 2024.
“Informasi yang kami terima menyebutkan bahwa ekspor ke Amerika Serikat dan Kanada telah dilakukan secara berkelanjutan sejak Oktober 2024. Ini membuktikan bahwa produk baja Indonesia dipercaya dan diterima di pasar global, bahkan di tengah dinamika kebijakan perdagangan yang terus berubah,” kata Menperin.
VP of Operations PT Tata Metal, Stephanus Koeswandi menyampaikan bahwa ekspor ke AS kali ini merupakan bagian dari ekspansi agresif perusahaan ke pasar global.
“Bulan Februari kami ekspor 5000 ton, kemudian setiap bulan terus meningkat hingga Juli ini kami ekspor 10.000 ton, atau sekitar 14,5% dari total target ekspor 2025 yang mencapai 69.000 ton,” jelasnya.
Menurut Stephanus, peningkatan ekspor tahun 2025 ini telah mencapai 133% dibandingkan 2024.
Adapun produk baja yang diekspor kali ini adalah BJLAS (Baja Lapis Aluminium Seng) bermerek Nexalume, BJLS (Baja Lapis Seng) bermerek Nexium, BJLS Warna bermerek Nexcolor.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., Akbar Djohan mengemukakan sinergi kedua perusahaan ini menjadi pondasi penting dalam memperkuat ekosistem industri baja nasional.
“Krakatau Baja Industri memiliki keandalan manufaktur dalam memproduksi baja lembaran dingin (CRC) unggulan yang berkualitas tinggi dan diakui di pasar dunia,” ujarnya.
Menurutnya, pasar ekspor kini menjadi salah satu andalan bagi Krakatau Steel Group untuk mendukung kinerja penjualan. Sebelumnya Krakatau Baja Industri telah melakuakan ekspor ke Polandia dan dalam waktu dekat kegiatan ekspor juga akan terus kami lakukan ke beberapa negara di Eropa lainnya.