5 Pesan Co-Founder Xendit untuk Kaum Perempuan

0
925

Chief Operating Officer dan Co-Founder Xendit Tessa Wijaya membagikan suka-duka serta pesannya bagi para perempuan yang tertarik untuk memasuki industri startup dan teknologi.

“Secara global, founder startup perempuan di bidang teknologi finansial (fintech) masih sangat terbatas, yaitu hanya 7% dari total founder fintech. Hal ini terjadi bukan semata-mata karena perempuan tidak mempunyai keterampilan yang mumpuni – namun lebih dikarenakan kurangnya kesadaran bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama bisa berkarya dengan baik di sektor digital. Itulah mengapa, penting sekali untuk mengedukasi generasi perempuan muda agar bisa menjadi pemimpin teknologi di masa depan,” kata Tessa dalam keterangan tertulis.

Tessa membagikan 5 pesan dari pengalamannya, bagi para perempuan muda yang tertarik untuk membangun karir di bidang startup dan teknologi.

Pertama, kuatkan mental dan hati untuk fokus pada kapabilitas diri sendiri.
Walaupun telah meniti pengalaman selama bertahun-tahun di bidang teknologi, bukan berarti Tessa bebas dari pengalaman diskriminatif. Faktanya, sebagai co-founder perempuan, ia juga pernah merasakan perbedaan perlakuan, misalnya diremehkan atau diragukan oleh pihak lain.

“Ketika perempuan ingin memulai sesuatu yang baru, banyak orang yang lebih skeptis dan meragukan kita. Saya sendiri mengalami berbagai penolakan dan pendapat skeptis dari orang lain yang tentunya sempat membuat saya ragu dengan diri sendiri,” kata Tessa.

Baca Juga :   BKSAP: Selain Hadiri 5WCSP, Ini Agenda Puan Maharani di Austria

Ia mengatakan dalam beberapa kali rapat, misalnya, ketika dirinya mengatakan sesuatu, pihak lain tidak mau mendengarkan. Tapi ketika hal yang sama diucapkan oleh co-founder laki-laki, maka mereka langsung mematuhinya.

“Ini adalah tantangan tersendiri yang harus dihadapi sebagai pimpinan perusahaan perempuan, tapi kita harus kuat secara mental dan prinsip, supaya kita bisa tetap percaya diri dan fokus melakukan hal yang benar tanpa mempedulikan selentingan orang lain,” ungkap Tessa.

Kedua, tidak ada yang mengalahkan kerja keras dan persiapan ekstra.
Untuk bisa tampil menonjol dibandingkan rekan-rekan yang lain, kerja keras dan persiapan ekstra adalah kuncinya. Tessa menceritakan bahwa dua karakter inilah yang membedakan karyawan hebat dengan karyawan yang biasa-biasa saja. Ayah Tessa juga yang mengajarkan untuk melatih kebiasaan bekerja dengan tulus dan sungguh-sungguh. Tidak peduli apa pun jabatan di perusahaan, kita harus mau terlibat secara aktif dan turun tangan langsung jika dibutuhkan.

Ketiga, berani bersuara.
Untuk bisa mendobrak dominasi dan stigma yang ada, perempuan perlu bersikap lebih asertif dan berani bersuara dalam lingkungan pekerjaan. Misalnya, jangan takut untuk mengutarakan pemikiran atau ide-ide dalam diskusi kantor. Hal ini akan membuat orang lain lebih menghormati, menghargai, dan mengakui kontribusi yang kita berikan kepada perusahaan.

Baca Juga :   OJK Serius Lindungi Konsumen Termasuk dari Fintech llegal

Keempat, terus belajar dan bagikan pelajaran itu ke orang lain.
Tessa menyadari bahwa hambatan utama dari para perempuan untuk terjun ke industri startup, fintech, atau teknologi, adalah karena minimnya role model dan kesempatan yang tersedia. Oleh karena itu, salah satu misi utamanya di Xendit adalah membantu semakin banyak perempuan untuk bisa meningkatkan karirnya dan menjadi bagian dari generasi pemimpin di masa depan.

“Untuk mengajak semakin banyak perempuan terlibat aktif di sektor teknologi, kita perlu menjadi mentor yang baik bagi generasi yang lebih muda. Kita juga perlu mendukung mereka dengan kepercayaan diri, pengembangan keterampilan, dan penyediaan sumber daya agar mereka nantinya bisa mendirikan perusahaan sendiri di masa depan,” kata Tessa.

Kelima, aktif menjalin koneksi melalui komunitas.

Bagi anak-anak remaja yang bercita-cita memasuki industri teknologi, Tessa menggagas inisiatif bernama Women in Tech di Indonesia. Bekerja sama dengan Society of Women Engineers (SWE) komunitas ini menyediakan panduan dan mentorship untuk anak-anak perempuan yang duduk di bangku SMA. Program ini menyatukan para perempuan yang bekerja sebagai techpreneur, developer, dan bahkan calon teknisi untuk bertukar wawasan serta pengalaman melalui serangkaian lokakarya dan forum sosial.

Baca Juga :   OJK Cabut Izin Usaha TaniFund

“Menurut saya, untuk meningkatkan partisipasi perempuan di ranah teknologi, kita harus bisa membangun awareness dan kepercayaan diri sejak usia dini. Melalui program Women in Tech, kami bertujuan untuk menumbuhkan ketertarikan pada sektor teknologi dan kewirausahaan, misalnya dengan pembuatan aplikasi dan rencana bisnis. Harapannya, para peserta juga semakin yakin untuk meniti karir di bidang teknologi – baik sebagai wirausaha atau engineer,”kata ujar Tessa.

Saat ini,  40% level manajer di Xendit dipegang oleh perempuan. Xendit juga menerapkan berbagai kemudahan untuk karyawan perempuan, seperti hak cuti melahirkan dan menyusui, jasa penitipan anak di kantor, hingga kesetaraan bayaran antara laki-laki dan perempuan. Xendit juga memperbolehkan karyawan untuk bekerja secara fleksibel, dalam hal waktu dan tempat, serta menawarkan fasilitas kesehatan bagi para ibu dan keluarga.

Leave a reply

Iconomics