Agus Sugiarto Sodorkan 7 Pilar Strategi Perkuat Kredibilitas OJK
Calon anggota Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agus Sugiarto/Istimewa
Calon anggota Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agus Sugiarto membawa visi penguatan lembaga melalui “7 Pilar Strategi” ketika mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR. Agus mengusulkan langkah tersebut untuk menjawab kompleksitas industri jasa keuangan nasional yang mencatat lonjakan aset dari Rp 13.200 triliun pada 2014 menjadi Rp 34.500 triliun untuk saat ini, dengan jumlah entitas melampaui 4.000 lembaga.
Karena itu, kata Agus, pihaknya menilai pentingnya memperkuat peran OJK sebagai otoritas yang kredibel dan bermartabat guna menyokong pembangunan nasional. “Bagaimana kita bisa memperkuat peran OJK sebagai otoritas yang kredibel dan bermartabat guna mendukung pembangunan nasional,” ujar Agus dalam pemaparannya di Komisi XI DPR, Senayan, Rabu (11/3).
Meski industri tumbuh pesat, kata Agus, pihaknya memberi catatan kritis terhadap risiko operasional, terutama terkait integritas pasar dan keamanan digital. Mantan pejabat Bank Indonesia dan OJK ini lantas menekankan ancaman seperti phishing, skimming, hingga pencurian data harus menjadi prioritas utama OJK di masa mendatang.
Di samping itu, Agus juga menyoroti adanya kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan di Indonesia. Ia memaparkan bahwa saat ini tingkat inklusi telah mencapai 80%, namun tingkat literasi baru menyentuh angka 66%.
Kondisi ini, kata Agus, menunjukkan terdapat sekitar 35% masyarakat yang memiliki akses produk keuangan tetapi belum memahami fungsinya, sehingga sangat rentan terhadap penipuan maupun investasi ilegal. “Artinya masih ada sekitar 35% masyarakat yang belum benar-benar memahami produk keuangan, sehingga rentan terhadap penipuan atau investasi ilegal,” ujar Agus.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Agus menawarkan 7 pilar strategi yang mengedepankan pengawasan berbasis teknologi tinggi. Salah satunya mendorong pemanfaatan big data dan kecerdasan buatan (AI) melalui supervisory technology untuk memperkuat sistem peringatan dini agar deteksi risiko dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Adapun rincian strategi tersebut mencakup penerapan regulasi forward looking berbasis riset standar internasional, pengawasan berbasis risiko yang terintegrasi, serta percepatan literasi keuangan untuk perlindungan konsumen. Pilar strategis lainnya meliputi pengembangan kapasitas SDM internal secara berkelanjutan, penguatan infrastruktur kelembagaan termasuk percepatan pembangunan kantor pusat, hingga diversifikasi pendanaan demi mengurangi ketergantungan pada iuran industri.
Agus Sugiarto merupakan 1 dari 10 kandidat yang tengah memperebutkan lima posisi strategis di DK OJK, bersaing dengan sejumlah nama besar seperti Friderica Widyasari Dewi, Hasan Fawzi, hingga Adi Budiarso.