Berduka 3 Prajurit Gugur Saat Misi Pemadaman, Legislator: Betapa Besarnya Cost Karhutla
Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan/Dokumentasi DPR
Anggota Komisi IV DPR, Daniel Johan menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa atas gugurnya 3 prajurit TNI saat menjalani misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena itu, para petugas dan relawan yang gugur saat membantu penanangan karhutla diberi penghargaan setinggi-tingginya.
“Dukacita yang mendalam atas gugurnya para prajurit kita saat tengah melakukan misi pemadaman karhutla. Mereka perlu diapresiasi yang layak oleh negara,” kata Daniel Johan pada Jumat (6/11).
Seperti diketahui, helikopter Mi 17V5 milik TNI Angkatan Darat (AD) mengalami kecelakaan saat melaksanakan operasi pemadaman di Kalimantan Tengah (Kalteng). Tiga prajurit TNI AD gugur dalam peristiwa ini dan telah mendapat kenaikan pangkat luar biasa (KPLB), yakni Letkol Cpn (Anm) Dudi Firmansyah, Kapten Cpn (Anm) Nurhafiz Akbar Rizki Hartio, dan Sertu (Anm) Heri Prasetyo.
Insiden tersebut terjadi saat helikopter melakukan pengambilan air laut untuk water bombing di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan pada 4 November lalu. Selain 3 prajurit gugur, sebanyak 5 orang mengalami luka-luka akibat peristiwa itu dan sedang menjalani perawatan di RS Kuala Pembuang.
Terkait hal ini, Daniel menilai penanganan karhutla yang kondisinya cukup parah bukanlah sebuah misi yang sederhana.
“Empati yang dalam juga selayaknya diberikan kepada semua petugas dan sukarelawan yang sudah banyak berkorban meninggalkan istri dan anak, mempertaruhkan nyawa, energi dan waktu, bahkan yang wafat saat berjuang dilapangan memadamkan api,” tutur Daniel.
“Sudah cukup banyak petugas dan relawan yang gugur saat membantu proses pemadaman karhutla. Dari semua ini, seharusnya ada kesadaran bersama betapa besarnya cost yang ditimbulkan akibat karhutla,” tambah Daniel.
Menurut Daniel, kecelakaan helikopter Mi-17 milik Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) dalam operasi water bombing menjadi peristiwa yang memprihatinkan di tengah upaya penanggulangan karhutla.
“Peristiwa ini bukan hanya menjadi duka bagi keluarga korban dan institusi TNI, melainkan juga pengingat akan besarnya risiko yang dihadapi para petugas dalam penanganan karhutla di berbagai daerah,” kata Daniel.
“Mereka bekerja di tengah kondisi alam yang menantang, medan yang sulit dijangkau, serta tuntutan untuk segera mengendalikan api agar tidak meluas dan menimbulkan dampak lebih besar,” tambah Daniel.
Di tengah situasi tersebut, kata Daniel, apresiasi patut diberikan kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan Karhutla. Mulai dari personel TNI, petugas pemadam kebakaran, tim gabungan, petugas kehutanan, BPBD, hingga masyarakat yang membantu di lapangan.
“Pengabdian mereka memiliki arti
penting dalam melindungi kawasan hutan, habitat satwa, permukiman, dan kesehatan warga dari dampak kebakaran serta asap,” ungkap Daniel.
Ditambahkannya, penghargaan terhadap dedikasi petugas harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap keselamatan mereka. Daniel juga mengingatkan pentingnya aspek keamanan dalam setiap operasi penanggulangan karhutla.
“Evaluasi menyeluruh diperlukan agar setiap misi pemadaman dapat dilaksanakan dengan kesiapan dan mitigasi risiko yang memadai, termasuk pemeliharaan armada dan kesiapan alat-alat serta prosedur pelaksanaan misi,” ujarnya.
Daniel juga meminta agar seluruh petugas dan relawan yang terluka dalam proses penanganan karhutla memperoleh penanganan terbaik, serta diberikan dukungan kepada keluarga mereka.
“Jadikan pula hasil investigasi sebagai dasar perbaikan keselamatan operasi ke depan. Hasil investigasi juga harus disampaikan secara seksama, termasuk mengawal ketersediaan peralatan, perlindungan kerja, dan dukungan logistik bagi petugas di lapangan,” kata Daniel.
Di sisi lain, anggota Komisi di DPR yang membidangi urusan kehutanan dan lingkungan hidup itu mengingatkan karhutla belum usai. Daniel menyoroti karhutla di Papua, khususnya di Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke yang tercatat sebagai kawasan taman nasional dengan luas kebakaran terbesar di Indonesia pada 2026.
“Kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan memperlihatkan bahwa ancaman kebakaran tidak hanya terjadi di wilayah yang selama ini dikenal rawan karhutla,” ujar politisi PKB tersebut.
Berdasarkan data BNPB dan MapBiomas Indonesia, luas area terbakar di kawasan Taman Nasional Wasur mencapai sekitar 8.708 hektare hingga Agustus 2026. Angka tersebut perlu menjadi perhatian karena Taman Nasional Wasur merupakan kawasan konservasi seluas sekitar
431.425 hektare yang memiliki ekosistem rawa, savana, padang rumput, dan hutan musim.
“Kawasan ini menjadi habitat berbagai jenis satwa dan burung, termasuk burung air serta burung migran. Kerusakan akibat karhutla berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem, mengurangi ketersediaan pakan, dan mengancam ruang hidup satwa liar,” kata Daniel.
Menurut Daniel, persoalan karhutla di Papua Selatan juga tidak dapat dilihat semata-mata sebagai dampak kondisi cuaca. Apalagi BNPB menyampaikan kebakaran di Merauke dipengaruhi kombinasi kemarau panjang, kondisi vegetasi yang mengering, serta aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar.
Data geospasial per 30 Oktober 2026 menunjukkan Kabupaten Merauke menyumbang sekitar 90% titik panas dan 96% luas kebakaran di Papua Selatan. Daniel menilai, situasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.
“Pemadaman harus berjalan bersamaan dengan pencegahan, pengawasan aktivitas pembukaan lahan, edukasi masyarakat, dan
penelusuran penyebab kebakaran,” kata Daniel.
Tantangan lainnya adalah kondisi geografis Papua Selatan yang memiliki kawasan luas dan sejumlah lokasi sulit dijangkau. Keterbatasan sumber air, akses menuju titik kebakaran, serta kondisi cuaca dinilai dapat memperlambat pemadaman.
“Karena itu, penanganan tidak cukup hanya mengandalkan pengerahan personel ketika api sudah meluas. Kesiapan peralatan,
pemantauan dini, dan keterlibatan masyarakat di sekitar kawasan konservasi harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang,” ujar Daniel.
Selain mengancam ekologis, Daniel menyebut karhutla di Merauke juga mempengaruhi ruang hidup dan kelangsungan hidup masyarakat adat di sekitar Taman Nasional Wasur.
“Banyak masyarakat adat yang terancam ruang hidupnya akibat karhutla. Pemerintah juga harus memikirkan nasib mereka, kebutuhan dan perlindungan bagi masyarakat adat,” kata Daniel.
Daniel juga mengingatkan kondisi Karhutla di Kalteng dan Kalimantan Timur (Kaltim) yang kembali meningkat meski sejumlah wilayah sebelumnya telah diguyur hujan. Berdasarkan laporan BNPB pada 3 November 2026, luas lahan terbakar di Kalteng meningkat menjadi 547 hektare, sedangkan di Kaltim mencapai 60 hektare.
BNPB menjelaskan bahwa bara api yang masih bertahan di bawah permukaan gambut menjadi salah satu penyebab kebakaran kembali muncul. Kondisi ini memperlihatkan bahwa penanganan karhutla di lahan gambut tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman api yang terlihat.
Menurut Daniel, hujan dan padamnya nyala api di permukaan tidak otomatis menandakan kawasan telah aman. Petugas perlu melakukan pembasahan berulang, pendinginan, penyisiran bara, dan patroli lanjutan.
“Karakteristik gambut memungkinkan bara bertahan di bawah tanah dan menjalar tanpa terlihat jelas di permukaan. Ketika kelembapan tanah menurun, bara tersebut dapat memicu kebakaran kembali, bahkan setelah hujan turun,” ujar Daniel.
Daniel pun memandang meningkatnya karhutla di Kalteng dan Kaltim menunjukkan bahwa persoalan kebakaran gambut memerlukan pendekatan jangka panjang.
“Pemadaman tetap menjadi prioritas, tetapi Pemerintah juga harus memastikan lahan tidak kembali terbakar setelah operasi dinyatakan selesai,” kata Legislator dari Dapil Kalimantan Barat I tersebut.
Daniel juga mengingatkan pemerintah untuk menggabungkan pemadaman menyeluruh, pencegahan berbasis kondisi ekosistem gambut, pengawasan kawasan rawan, dan penegakan hukum yang konsisten.
“Penanganan karhutla tidak seharusnya berhenti pada pemadaman, tetapi juga menyentuh akar persoalan, perlindungan ekosistem, dan pencegahan kejadian
serupa. Termasuk dukungan pemulihan bagi masyarakat terdampak hingga pasca-karhutla nanti,” kata Daniel.