Tudingan Kemendag soal Masyarakat Nimbun Minyak Goreng Tidak Gunakan Akal Sehat

0
624
Reporter: Rommy Yudhistira

Anggota Komisi VI DPR Achmad Baidowi menuding Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak menggunakan logika dan akal sehat ketika menyebut minyak goreng langka karena diduga masyarakat menimbunnya. Bahkan tudingan itu pun dinilai tidak jelas sama sekali karena penggunaan kata masyarakat itu sangat luas.

“Kenapa kalau dikatakan penimbunan dilakukan oleh masyarakat, masyarakat mana yang melakukan penimbunan,” kata Baidowi dalam keterangannya lewat video beberapa waktu lalu.

Menurut Baidowi, penimbunan tidak mungkin dilakukan masyarakat karena minyak goreng yang ada di pasaran dinilai tidak mencukupi kebutuhan masyarakat. Karena itu, agak sulid diterima akal ketika masyarakat dituduh menimbun minyak goreng yang barangnya pun sulit untuk didapatkan.

“Kalau misalnya masyarakat beli 2 liter jangan dikatakan penimbunan, karena itu kebutuhan. Sekarang lebih baik pemerintah bersikap profesional dan proporsional dalam menjalankan tugas,” ujar Baidowi.

Kemendag karena itu, kata Baidowi, sebaiknya berhati-hati untuk menyampaikan keterangan soal minyak goreng agar tidak melukai perasaan masyarakat. Pernyataan Kemendag itu justru menjadi bentuk alasan untuk melempar tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca Juga :   Cak Imin: Penambahan Pos Wakil Menteri Dalam Negeri Berdasarkan Pertimbangan Matang

Dalam pantauannya, kata Baidowi, masyarakat belum dapat menikmati ketersediaan minyak goreng dengan harga yang sudah ditentukan melalui kebijakan harga eceran tertinggi (HET). Bukan hanya karena harganya mahal, tapi memang barangnya juga tidak ada.

“Saya baru saja pulang dari daerah pemilihan. Jadi sebaiknya dari pihak Kemendag hati-hati jangan menimbulkan persoalan baru. Jangan melahirkan polemik-polemik baru yang tidak perlu,” ujar Baidowi.

Sebelumnya, Inspektur Jenderal Kemendag Didid Noordiatmoko menyatakan bahwa, di tengah-tengah upaya pemerintah yang sedang menyelesaikan persoalan distribusi minyak goreng, muncul fenomena panic buying di kalangan masyarakat. Padahal, kata Didid, jika merujuk dari hasil riset, kebutuhan minyak goreng per orang diperkirakan hanya sekitar 0,8-1 liter per bulan.

Dengan demikian, Didid menduga kelangkaan minyak goreng, diduga salah satunya disebabkan dari adanya masyarakat yang mulai menyetok minyak goreng lantaran terjadi fenomena panic buying. “Artinya, kini banyak rumah tangga menyetok minyak goreng. Tapi ini baru terindikasi,” kata Didid.

 

Leave a reply

Iconomics