Allianz Indonesia Catat Peningkatan Biaya Perawatan Penyakit Tropis

0
10

Allianz Indonesia menyebut tingginya kasus penyakit tropis di Indonesia berdampak pada naiknya data klaim kesehatan. Hingga pertengahan Juni 2026, Allianz Indonesia mencatat sebanyak 1.686 klaim terkait DBD dengan nilai klaim lebih dari Rp21,5 miliar, dan 1.534 klaim demam tifoid dengan nilai klaim mencapai lebih dari Rp14,5 miliar, serta 815 klaim TBC dengan nilai klaim mencapai lebih dari Rp5,4 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa penyakit-penyakit tersebut masih menjadi salah satu penyebab masyarakat membutuhkan perawatan medis, baik rawat jalan maupun rawat inap.

Allianz Indonesia juga melihat tren peningkatan biaya perawatan untuk sejumlah penyakit tropis dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh, berdasarkan data Allianz Indonesia selama periode 2020-2025, rata-rata biaya rawat inap demam tifoid per kasus meningkat hingga 66%, sementara rata-rata biaya perawatan DBD per kasus meningkat hingga 88%.

“Data klaim yang kami miliki menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan perawatan medis yang cukup tinggi. Di saat yang sama, kami juga melihat adanya peningkatan biaya perawatan untuk beberapa penyakit tropis dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan deteksi dini, tidak hanya untuk menjaga kesehatan tetapi juga untuk membantu mengurangi risiko beban finansial,” kata dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia dalam keterangannya.

Baca Juga :   Allianz Life Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Pertumbuhan

Dokter dan edukator kesehatan, dr. Dion Haryad mengulas alasan sejumlah penyakit tropis yang telah dikenal lama masyarakat justru masih menjadi penyumbang kasus yang tinggi di Indonesia hingga saat ini.

Salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian penyakit tropis adalah anggapan bahwa penyakit-penyakit tersebut sudah umum terjadi sehingga sering kali dianggap tidak terlalu berisiko. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang menunda pemeriksaan atau baru mencari pertolongan medis ketika gejalanya sudah semakin berat.

Pada kasus DBD, misalnya, masih banyak masyarakat yang menganggap pasien sudah membaik ketika demam mulai turun. Padahal, fase tersebut justru menjadi periode yang paling kritis. Sementara pada demam tifoid, gejala seperti demam, lemas, atau gangguan pencernaan kerap dianggap akibat kelelahan atau gangguan kesehatan ringan. Sedangkan untuk TBC, batuk yang berlangsung lama sering kali tidak segera diperiksakan karena dianggap sebagai batuk biasa yang dapat sembuh sendiri.

Selain itu, kondisi iklim tropis, kepadatan penduduk, sanitasi, serta keberadaan vektor penyakit seperti nyamuk juga membuat berbagai penyakit tropis masih terus ditemukan di Indonesia. Kombinasi faktor lingkungan dan keterlambatan penanganan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa DBD, demam tifoid, dan TBC masih banyak ditemukan hingga saat ini, sebagaimana juga tercermin dalam tingginya jumlah klaim yang tercatat oleh Allianz Indonesia.

Baca Juga :   Spin Off Unit Syariah: Allianz Life Syariah Indonesia Peroleh Izin Usaha Asuransi Berbasis Syariah

Di sisi lain, masih banyak masyarakat Indonesia yang masih menganggap remeh penyakit tropis. Sebagai contoh, banyak yang baru menyadari bahwa biaya rawat inap pasien DBD di rumah sakit dapat mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp20 juta, tergantung tingkat keparahan, lama perawatan, kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan, hingga penanganan medis tambahan jika terdapat komplikasi. Biaya tersebut juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun seiring kenaikan biaya layanan kesehatan.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics