Di Tengah Banjir Informasi dan AI, Humas Harus Pegang Kendali Penjernih Informasi

0
16

Peran insan kehumasan terus bertransformasi seiring dengan perubahan dan dinamika di jagat teknologi informasi. Hadirnya banjir informasi dari berbagai sumber hingga semakin merebaknya implementasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi tantangan besar yang harus dijawab insan kehumasan.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan peran humas kini semakin penting di tengah derasnya arus disinformasi, misinformasi, dan perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) yang mengubah lanskap komunikasi global.

Menurut Nezar, humas tidak lagi cukup menjadi penyampai informasi, tetapi harus menjadi penjernih informasi atau clearing house of information yang menjaga kepercayaan publik.

“Peran humas menjadi sangat penting ketika noise dalam lanskap komunikasi semakin besar. Disinformasi, misinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian hadir begitu deras melalui perangkat digital yang setiap hari kita gunakan. Karena itu, humas harus mampu menjadi clearing house of information yang memastikan publik memperoleh informasi yang benar dan dapat dipercaya,” kata Wamen Nezar dalam acara Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026 di Jakarta Pusat pada 11 Juli 2026.

Baca Juga :   Survei Pure Storage Mengungkap Kesiapan Perusahaan di Era AI

Menurut Nezar, dunia saat ini memasuki era post-truth, ketika batas antara fakta dan fiksi semakin kabur, sementara opini publik lebih mudah dipengaruhi sentimen dibandingkan fakta.

Kondisi tersebut diperkuat oleh platform digital yang menjadikan telepon pintar sebagai sumber utama masyarakat memperoleh informasi.

Ia juga melihat disinformasi bukan lagi persoalan komunikasi semata, tetapi sudah menjadi ancaman global. Ia berharap organisasi profesi seperti PERHUMAS memiliki posisi yang sangat strategis untuk membangun ekosistem informasi yang kredibel dan meningkatkan kualitas komunikasi publik.

Ia menilai kemajuan AI membuka peluang besar bagi profesi humas untuk meningkatkan efektivitas komunikasi. Berdasarkan studi One Asia Communications tahun 2025, praktisi humas di berbagai negara Asia semakin memanfaatkan AI untuk analisis sentimen publik secara real time, menjaga konsistensi pesan, hingga meningkatkan kualitas storytelling.

Namun demikian, pemanfaatan AI harus selalu dibarengi tata kelola yang baik dan berlandaskan etika. AI hanyalah alat bantu yang tidak boleh menghilangkan tanggung jawab profesional maupun nilai-nilai kemanusiaan dalam komunikasi.

Baca Juga :   Hadapi Pemilu 2024, Perhumas Ingatkan Praktisi Humas Bertindak Sesuai Rekomendasi Hasil Konvensi

“Teknologi dapat membantu menghasilkan konten dengan cepat, tetapi kepercayaan publik dibangun oleh integritas, empati, dan ketulusan. Sampai hari ini, AI masih belum mampu menghadirkan sincerity atau ketulusan yang menjadi unsur penting dalam komunikasi manusia,” kata Wamenkomdigi.

Nezar juga menyoroti munculnya teknologi agentic AI yang mulai mampu menjalankan fungsi-fungsi kehumasan, mulai dari membaca data, menyusun strategi komunikasi, hingga membangun narasi secara otomatis selama 24 jam.

Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi profesi humas untuk terus meningkatkan kompetensi agar tidak tergeser oleh otomatisasi.

Ia mendorong insan humas tidak hanya menguasai teknologi AI, tetapi juga memperkuat kemampuan berpikir kritis, melakukan verifikasi informasi, memahami konteks sosial, serta menjaga etika komunikasi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan mesin.

Leave a reply

Iconomics