Ekonom Senior: Defisit Energi Diperkirakan Capai US$ 80 M di 2040

0
405
Reporter: Yehezkiel Sitinjak

Kinerja sektor energi Indonesia dinilai semakin menurun. Karena itu, Indonesia diperkirakan akan mengalami defisit energi mulai 2021 dan akan membengkak hinggap senilai US$ 80 miliar pada 2040.

“Di 2040 defisit energinya berpotensi mencapai US$ miliar, kalau tetap business as usual,” kata ekonom senior Faisal Basri ketika rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR secara virtual di Jakarta, Senin (31/8).

Faisal menuturkan, perkiraan tersebut tidak terlepas dari kondisi sektor energi dalam negeri saat ini, terutama terkait minyak dan gas. Untuk produk bahan bakar minyak (BBM), Faisal mencatat Indonesia telah mengalami defisit yang signfikan yakni mencapai US$ 15 miliar pada 2019.

Jika kondisi tersebut ditambah dengan minyak mentah dan produk minyak, defisitnya bahkan mencapai US$ 20 miliar di 2019. Walau gas masih surplus, kata Faisal, tapi semakin lama terus menurun dan tidak mampu menutup defisit lagi untuk 2019.

“Minyak dan gas digabung hasilnya defisit. Jadi migas defisit, kira-kira mencapai US$ 10 miliar,” kata Faisal.

Baca Juga :   NRE Gandeng GCL Kembangkan Proyek Energi Bersih di Indonesia

Secara keseluruhan, kata Faisal, sektor energi Indonesia saat ini masih mampu ditopang oleh komoditas batu bara. Jika angka batu bara digabungkan, maka neraca energi dalam negeri pada 2019 masih surplus sebesar US$ 8 miliar.

Permintaan konsumsi energi Indonesia, kata Faisal, terbesar di antara negara berkembang juga menjadi salah satu faktor atas potensi terjadinya defisit energi. Tahun lalu, pertumbuhan konsumsi energi Indonesia sekitar 4,9%, padahal pertumbuhan penduduk masih di atas 1%.

Menurut Faisal, tingkat produksi energi dalam negeri, terutama untuk minyak, masih dinilai jauh dari optimal. Hasil produksi kilang dalam negeri tidak bertambah kapasitasnya selama 20 tahun terakhir.

Saat ini, kata Faisal, pihaknya mencatat kilang-kilang dalam negeri hanya mampu memproduksi sebanyak 1 juta ton barel BBM per hari. Sementara kebutuhan masyarakat mencapai 1,6 juta ton barel per hari, di mana 600 ribu ton barel berasal dari impor.

Leave a reply

Iconomics