Pasar Modal Syariah Semakin Mengembang, Saham dan Sukuk Menyedot Investor

0
432
Reporter: Maria Alexandra Fedho

Gap pasar syariah dan tradisional di pasar modal semakin menipis. Direktur Treasury dan International Banking Bank Syariah Indonesia (BSI), Moh. Adib mengatakan bahwa gap antara spread market syariah dan non Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) semakin menipis. Hal ini menunjukkan bahwa volume transaksi saham syariah semakin tinggi dari waktu ke waktu.

Dari total emiten sebanyak 852, yang termasuk dalam ISSI sebanyak 527 atau setara 62% emiten ISSI, dan 38% emiten non ISSI atau sebanyak 325 emiten. Secara nilai kapitalisasi komposisi market cap ISSI sebanyak 50,4% atau setara dengan Rp4.786 triliun, sedangkan non ISSI sebanyak Rp4.713 atau setara dengan 49,6%.

Bahkan market cap ISSI dari tahun 2021 ke 2022 mengalami pertumbuhan yang lebih besar dibanding Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yaitu sebesar 20%. Sedangkan IHSG sebesar 15%.

Gap antara spread market syariah dan non ISSI semakin menipis ya kalau kita lihat, bahkan kalau ini terus 20%-nya ini bisa meningkat maka akan menggeret transaksi-transaksi dan volume perdagangan di Bursa secara umum,” jelas Adib dalam Securitization Forum pada 17 April 2023.

Baca Juga :   Bos BEI: Antusiasme Masyarakat Berinvestasi di Pasar Modal Sangat Tinggi

Adapun untuk surat utang, market share sukuk masih sekitar 24%, pertumbuhan instrumen sukuk lebih baik dibandingkan dengan instrumen obligasi lain. Dari total outstanding Rp5.758 triliun surat berharga, sebesar 24% diantaranya atau Rpp1.1387 triliun merupakan instrumen sukuk. Sementara 76% adalah obligasi yang mencapai Rp4.371 triliun.

Outstanding surat berharga per 2020 sampai 2022 terus naik. Sukuk pada tahun 2020 sebesar  Rp1.002 triliun, sebesar Rp1.192 triliun pada tahun 2021, sebesar Rp1.387 triliun pada 2022  dan mengalami peningkatan sebanyak 16,3%.

Adapun untuk obligasi mencapai sebesar Rp3.301 triliun di tahun 2020, sebesar Rp3.765 triliun di 2021, sebesar Rp4.371 triliun di tahun 2022 dan mengalami peningkatan sebanyak 16%.

“Artinya instrumen instrumen sukuk ini masih dinilai investor sebagai satu instrumen investasi yang cukup menarik,” kata Adib.

Leave a reply

Iconomics