UOB Asset Management Ungkap Peluang Pemulihan Ekonomi di Asia yang Terdampak Tarif AS
Bursa Efek Indonesia/Dok. Iconomics
UOB Asset Management (UOBAM) menilai sejumlah pasar di Asia bahkan bisa mengalami reli harga jika proses negosiasi menjelang tenggat baru pada 1 Agustus menghasilkan tarif yang lebih kondusif dibandingkan tarif yang diumumkan pada April lalu.
Investor tidak lagi berharap bahwa kondisi perdagangan akan kembali seperti sediakala, namun bersikap optimistis atas kemampuan pasar Asia dalam menghadapi tarif yang bersifat moderat.
“Mayoritas perekonomian di Asia berpeluang mengalami pemulihan relatif cepat dari dampak langsung kenaikan tarif AS. Penurunan ekspor ke AS dapat diimbangi dengan aktivitas perdagangan dengan negara-negara lain, terutama, negara tetangga di Asia,” kata Colin Ng, Head, Asian Equities, UOBAM dalam keterangannya.
“Tren ini, di satu sisi, muncul karena semakin banyak perusahaan Asia yang membangun merek-merek yang telah dikenal di pasar global. Di sisi lain, basis konsumen di Asia kini telah cukup besar dan berdaya beli untuk menyerap produk-produk tersebut. Itu sebabnya, ASEAN telah menyalip posisi AS sebagai mitra dagang terbesar Tiongkok,” kata Ng.
Namun demikian, Ng mengingatkan risiko yang dihadapi perekonomian Asia timbul akibat dampak tidak langsung dari kenaikan tarif perdagangan AS, yaitu perlambatan pertumbuhan dunia atau resesi. Kondisi tersebut akan membuat ekspor Asia merosot. Meski demikian, berdasarkan data ekonomi yang telah dirilis hingga saat ini, menurut Ng, kondisi tersebut bukan menjadi bagian dari skenario base case UOBAM.