BPS: Ekspor Indonesia Capai US$ 135,41 M di Semester I/2025 atau Naik 7,70% Dibanding 2024

0
133
Reporter: Rommy Yudhistira

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 135,41 miliar sepanjang Semester I/2025 atau naik 7,70% dibanding periode yang sama di 2024. Peningkatan nilai ekspor tersebut karena meningkatnya ekspor non-minyak dan gas bumi (migas) menjadi US$ 128,39 miliar dari US$ 117,8 miliar atau naik 8,96%.

Sementara itu, kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, nilai ekspor migas turun menjadi US$ 7,02 miliar dari US$ 7,9 miliar atau 11,04%. Hal tersebut terjadi karena turunnya ekspor minyak mentah 31,86% menjadi US$ 774,8 juta, dan ekspor gas alam 14,40% menjadi US$ 3,7 miliar.

Sedangkan ekspor hasil minyak, kata Amalia, naik 4,90% menjadi US$ 2,5 miliar. Untuk sektor non-migas, hasil industri pengolahan melonjak 16,57% dibanding periode yang sama tahun lalu; ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 49,77%, serta ekspor hasil pertambangan dan lainnya turun 25,21%.

Dari sisi negara tujuan, kata Amalia, ekspor non-migas Januari-Juni 2025 paling besar ke Tiongkok dengan nilai US$ 29,31 miliar, Amerika Serikat US$ 14,79 miliar, dan India US$ 8,97 miliar. Sementara ekspor ke Asean, dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing senilai US$ 25,59 miliar, dan US$ 9,39 miliar.

Baca Juga :   Triwulan IV Tumbuh 5,04%, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,05% Sepanjang Tahun 2023

“Peningkatan ekspor non-migas  secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan, dan sektor pertanian. Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor non-migas pada Januari-Juni 2025, dengan andil sebesar 12,16% (terhadap kinerja ekspor),” kata Amalia dalam keterangan resminya pada Jumat (1/8).

Kinerja Impor
Selanjutnya, kata Amalia, total nilai impor Indonesia mencapai US$ 115,94 miliar pada Semester I/2025. Angka itu naik 5,25% dibandingkan periode yang sama di 2024.

Sejalan dengan itu, kata Amalia, kinerja impor non-migas naik 8,60% menjadi US$ 100,07 miliar. Sedangkan untuk nilai impor migas tercatat US$ 15,86 miliar, atau turun 11,91%.

“Jika dilihat menurut penggunaan, secara kumulatif peningkatan nilai impor terjadi pada bahan baku penolong, dan barang modal. Sebagai penyumbang utama peningkatan impor, nilai impor barang modal mencapai US$ 23 miliar, atau 20,90% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan memberikan andil peningkatan 3,61%,” ujar Amalia.

Amalia menambahkan, adapun 3 negara pemasok barang impor non-migas terbesar selama Januari-Juni 2025 yaitu Tiongkok US$ 40 miliar, Jepang US$ 7,47 miliar, dan Amerika Serikat US$ 4,87 miliar. Kemudian impor non-migas dari Asean sebesar US% 16 miliar, dan Uni Eropa US$ 5,60 miliar.

Leave a reply

Iconomics