Laba Bersih Astra Group Turun 2% di Semester I/2025 Dibandingkan Tahun Sebelumnya
Tangkapan layar Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro/Iconomics
PT Astra International Tbk mencatat laba bersih (belum termasuk penyesuaian nilai wajar atas investasi GoTo dan Hermina) senilai Rp 16 triliun pada Semester I/2025. Capaian itu lebih rendah 4% dari periode yang sama pada tahun lalu.
Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro mengatakan, apabila memperhitungkan penyesuaian nilai wajar investasi di GoTo dan Hermina, maka laba bersih Astra Group menurun 2% menjadi Rp 15,5 triliun. Kemudian, Astra Group membukukan pendapatan bersih konsolidasi senilai Rp 162,9 triliun, atau naik 2% dibandingkan semester yang sama di 2024.
Penurunan laba bersih itu, kata Djony, karena kontribusi bisnis jasa penambangan, pertambangan batu bara, dan mobil. Sedangkan kinerja yang positif, ada pada bisnis lain.
Secara keseluruhan, kata Djony, nilai aset bersih per saham pada 30 Juni 2025, naik sebesar 2% menjadi Rp 5.385.
“Portofolio grup yang terdiversifikasi menunjukkan kinerja yang tetap resilient secara keseluruhan, dengan kontribusi yang lebih tinggi, khususnya dari segmen jasa keuangan, infrastruktur, dan agribisnis,” kata Djony dalam keterangan resminya beberapa waktu yang lalu.
Kemudian, kata Djony, kas bersih belum termasuk anak perusahaan jasa keuangan, mencapai Rp 12,7 triliun. Utang bersih anak perusahaan jasa keuangan grup meningkat menjadi Rp 64 triliun dari sebelumnya Rp 60,2 triliun pada 31 Desember 2024.
Memasuki Semester II/2025, kata Djony, Astra Group memperkirakan kinerja pada sisa tahun ini relatif sama seperti Semester I/2025. Penyebabnya, karena rendahnya harga batu bara, dan lemahnya pasar mobil masih menjadi tantangan bagi Astra Group.
Meski demikian, kata Djony, Astra Group tetap optimistis terhadap ketahanan portofolionya. Astra Group pun berkomitmen untuk menjaga disiplin keuangan, dan keunggulan operasional, sembari mencari peluang pertumbuhan jangka panjang.