PLN Cetak Kinerja Keuangan Positif di Semester I/2025, Meski Jumlah Utang Juga Meningkat
Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Darmawan Prasodjo/Foto: Youtube
PT PLN (Persero) mencetak kinerja keuangan positif pada Semster I/2025. Buktinya perusahaan milik negara tersebut membukukan laba usaha senilai Rp 30,56 triliun atau naik 7,23% dari periode yang sama tahun 2024 yang mencapai Rp 28,50 triliun.
PLN memperoleh laba tersebut dari pendapatan usaha yang meningkat menjadi Rp 281,89 triliun atau naik 7,57% dibanding Semester I/2024 yang mencapai Rp 262,06 triliun. Soal kinerja ini, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, sektor rumah tangga menjadi kontributor utama penjualan listrik, dengan konsumsi mencapai 67,14 terawatt hour (TWh).
Jumlah itu, kata Darmawan, meningkat 3,2 TWh atau naik 5,13% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, sektor rumah tangga menyumbang 43,14% dari total penjualan listrik nasional.
Sementara itu, lanjut Darmawan, konsumsi listrik di sektor industri tumbuh sebesar 2,66% yoy, dengan volume mencapai 1.165 gigawatt (GWh). Pertumbuhan itu, karena peningkatan permintaan listrik dari pelanggan industri menengah, khususnya di sektor makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, serta industri karet dan plastik.
Kendati demikian, kata Darmawan, apabila dilihat dari laporan kinerja perusahaan, PLN mencatat kenaikan jumlah utang dari Rp 711,2 triliun pada akhir Desember 2024, menjadi Rp 734,2 triliun pada 30 Juni 2025. Itu sebabnya, dukungan pemerintah, dan sinergi lintas sektor menjadi kunci bagi PLN dalam menjaga kinerja di tengah tekanan geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi global.
“Ini juga jadi bukti keberhasilan pemerintah dalam menjaga kestabilan ekonomi terlihat dari naiknya konsumsi listrik pelanggan,” kata Darmawan dalam keterangan resminya pada Rabu (6/8).
Masih kata Darmawan, transformasi yang dijalankan sejak 2020, dinilai mampu memperkuat daya saing PLN. Upaya itu tidak sekadar menciptakan efisiensi, tetapi juga mengubah pola kerja PLN dari pendekatan birokratis, menjadi orientasi pasar, dan pelanggan.
“Pendekatan yang lebih business-like ini memungkinkan PLN beradaptasi terhadap dinamika eksternal, sekaligus memastikan pasokan energi yang andal, kompetitif, dan mendukung keberlanjutan ekonomi nasional,” katanya.