Enam Kali Gunting BI Rate, Bank Indonesia Ungkap Biang Kerok Transmisi yang Lemah ke Suku Bunga Perbankan

0
122

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada September ini, yang digelar 16-17 September, memutuskan kembali menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%.

Dengan demikian, dalam setahun terakhir — sejak September 2024 — bank sentral sudah menggunting suku bunga acuan sebanyak enam kali atau sebesar 125 basis poin.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan penurunan BI Rate pada RDG September ini dilandasi pada asesmen BI akan kondisi global dan domestik.

Dari sisi global, jelasnya, pertumbuhan ekonomi masih mengalami perlambatan di berbagai negara termasuk negara mitra dagang utama Indonesia, yakni Amerika, China, Uni Eropa,  dan Jepang, kecuali India.

“Dan yang paling utama tentu saja, Fed Funds Rate turun. Kami memperkirakan dengan probabilitas melebihi 90 persen Fed Funds Rate akan mulai turun besok. Itu sebagai salah satu pertimbangan yang kami lakukan dalam keputusan penurunan BI Rate pada hari ini,” kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (17/9).

Selain itu, penurunan BI Rate juga dilakukan karena nilai tukar dolar AS terhadap berbagai mata uang utama dunia (DXY), maupun terhadap mata uang negara-negara di Asia, cenderung stabil, bahkan ada kecenderungan melemah. Hal itu, kata Perry, akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Dari sisi domestik, pertimbangan untuk kembali menurunkan BI Rate adalah inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang baik.

“Tentu saja kita ingin lebih baik lagi. Oleh karena itu, kenapa Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, baik fiskal maupun kebijakan sektor riil untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Karena pertumbuhan ekonomi kita masih di bawah kapasitas nasional, sehingga permintaan domestik perlu kita dorong,” ujar Perry.

Baca Juga :   Mulus! Komisi XI DPR RI Setujui Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI

Karena itu, tambahnya, Bank Indonesia pun “menyambut baik kebijakan fiskal yang lebih ekspansif, termasuk pemindahan dana pemerintah yang semula ada di Bank Indonesia kepada perbankan untuk menambah likuiditas.”

Pemindahan dana senilai Rp200 triliun yang ditempatkan di bank milik negara itu, jelas Perry, memperkuat kebijakan-kebijakan Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

 “Semua kebijakan kami di Bank Indonesia memang telah all out untuk pro-growth dengan tetap menjaga stabilitas,” ujarnya.

Selain sudah menurunkan BI Rate sebanyak enam kali, jelas Perry, BI juga melakukan ekspansi likuiditas melalui penurunan posisi instrumen moneter SRBI dari Rp916,97 triliun pada awal tahun 2025 menjadi Rp716,62 triliun pada 15 September 2025.

 Bank Indonesia juga membeli SBN sebagai bentuk sinergi erat antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, yang hingga 16 September 2025 mencapai Rp217,10 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder dan program debt switching dengan Pemerintah sebesar Rp160,07 triliun.

 “Itu juga ekspansi likuiditas dan sekaligus membantu fiskal dalam pembiayaan fiskalnya melalui penerbitan SBN,” ujarnya.

“Semua kami lakukan dengan asas-asas dan prinsip kebijakan moneter yang prudent dan terukur. Inflasi rendah, rupiah stabil dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi dalam sinergitas itu,” tambah Perry.

Tak hanya itu, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia juga menerapkan kebijakan makroprudensial longgar, antara lain dengan memberikan insentif likuiditas kepada perbankan sebesar Rp384 triliun.

“Dengan langkah-langkah ini, sinergitas, langkah-langkah bauran kebijakan Bank Indonesia: moneter, makroprudensial, dan digitalisasi sistem pembayaran, demikian juga pendalaman pasar keuangan, semua diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan dengan tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas moneter,” ujarnya.

Baca Juga :   Cadangan Devisa Sebesar US$149,9 Miliar di Akhir September 2024, Turun Dibandingkan Akhir Agustus

Mengapa Suku Bunga Bank Masih Tinggi?

Berbagai langkah BI ini baru berdampak ke suku bunga di pasar uang. Suku bunga INDONIA terus menurun sebesar 144 bps dari 6,03% pada awal 2025 menjadi 4,59% pada 16 September 2025. Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan juga menurun masing-masing sebesar 210 bps, 213 bps, dan 219 bps sejak awal 2025 menjadi 5,06%; 5,07%; dan 5,08% pada 12 September 2025. Imbal hasil SBN untuk tenor 2 tahun menurun sebesar 185 bps dari 6,96% pada awal 2025 menjadi 5,11% pada 16 September 2025, sementara untuk tenor 10 tahun menurun sebesar 94 bps dari tingkat tertinggi 7,26% pada pertengahan Januari 2025 menjadi 6,32%.

 “Namun, penurunan suku bunga perbankan masih berjalan lambat dan karenanya perlu dipercepat,” kata Perry.

Dibandingkan dengan penurunan BI Rate sebesar 125 bps, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun sebesar 16 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,65% pada Agustus 2025. Penurunan suku bunga kredit perbankan bahkan berjalan lebih lambat, yaitu sebesar 7 bps dari 9,20% pada awal 2025 menjadi sebesar 9,13% pada Agustus 2025.

 “Pertanyaannya, kenapa suku bunga deposito belum turun?” kata Perry.

Salah satu faktornya, jelas Perry, karena adanya special rate yang diberikan kepada deposan-deposan besar. Jumlahnya, per Agustus 2025 mencapai 25,4% dari total DPK atau sebesar Rp2.380,4 triliun.

Baca Juga :   Masih Ada Ruang Penurunan Suku Bunga Acuan BI

Faktor yang juga membuat suku bunga perbankan masih tinggi — meski BI Rate sudah dipangkas berkali-kali — adalah permintaan kredit.

Perry mengatakan permintaan kredit belum tumbuh kuat karena masih terdapat undisbursed loan yang besar. Per Agustus 2025 jumlahnya mencapai Rp2.372,11 triliun atau 22,71% dari plafon kredit yang tersedia.

 “Jadi, kredit yang sudah diberikan bank, itu pun memang juga belum semuanya digunakan oleh debitur, tercermin dalam undisbursed loan yang jumlahnya Rp2.372,11 triliun atau 22,71% dari plafon yang tersedia,” ujarnya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung mengatakan pertumbuhan kredit perbankan per Agustus 2025 memang membaik dari bulan sebelumnya, dari 7,03% menjadi 7,56%.

 

“Tapi kami memandang bahwa pertumbuhan itu masih terbatas di tengah berbagai kebijakan yang telah diambil oleh Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan kredit baik melalui suku bunga dan juga melalui likuiditas baik melalui operasi moneter maupun dari kebijakan KLM (insentif Likuiditas Makroprudensial),” ujarnya.

“Dengan adanya tambahan likuiditas, ada penurunan BI Rate lagi, kami harapkan perbankan juga terus merespons transmisi suku bunga ini dan juga transmisi melalui kredit,” imbuhnya.

Dengan berbagai kebijakan ini, ditambah penempatan dana pemerintah di bank-bank BUMN, Juda mengatakan, prospek pertumbuhan kredit pada tahun ini masih di kisaran 8-11 persen.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics