Neraca Dagang Surplus, BPS Ingatkan Waspadai Penurunan Impor Bahan Baku dan Barang Modal

0
443
Reporter: Petrus Dabu

Rapor perdagangan internasional Indonesia tercatat surplus, baik untuk periode Maret 2020 maupun akumulasi Januari-Maret 2020. Tetapi, harus diwaspadai adanya penurunan impor bahan baku/penolong dan barang modal karena berpengaruh pada pergerakan sektor industri, perdagangan dan investasi.

Suhariyanto, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan  pada Maret 2020, total ekspor Indonesia adalah sebesar US$ 14,09 miliar, naik 0,23% dibandingkan Februari 2020 yang sebesar US$ 14,06 miliar.  Sedangkan secara year on year, nilai ekspor Indonesia megalami penurunan sebesar 0,2% bila dibandingkam kondisi pada  Maret 2019 yang sebesar US$14,12 miliar.

Untuk akumulasi ekspor pada Januari-Maret 2020, Suryanto mengatakan jumlahnya sebesar US$ 41,79 miliar, naik 2,91% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 40,61 miliar.

“Ini perkembangan yang cukup menggembirakan bahwa selama triwulan satu 2020 ekspor kita ternyata masih mengalami peningkatan sebesar  2,91%  dibandingkan triwulan satu 2019,” ujarnya saat konferensi pers secara daring, Rabu (15/4).

Bagaimana dengan kinerja impor? Suryanto mengatakan selama Maret 2020 nilai impor Indonesia adalah US$13,35 miliar naik 15,6% dibandingkan Februari yang sebesar US$ 11,55 miliar. Namun, secara year on year, impor pada Maret turun 0,75% dari US$ 13,45 miliar pada Maret tahun lalu.

Baca Juga :   Maret Terjadi Inflasi 0,66% Karena Kenaikan Harga Cabe Merah, Minyak Goreng dan Emas Perhiasan

Bila dilihat dari penggunaan barangnya, impor barang konsumsi pada Maret 2020 sebesar US$ 1,27 miliar, naik 43,8% dibandingkan Februari 2020 dan naik 10,66% dibandingkan Maret 2019.

Kemudian, impor bahan baku/penolong pada Maret 2020 sebesar US$ 10,28 miliar, naik 16,34% dibandingka Februari 2020 dan naik 1,72%  dibandingkan Maret 2019.

Sedangkan, impor barang modal sebesar US$ 1,8 miliar, turun 1,55% dibandingkan Februari 2020 dan turun 18,97% dibandingkan Maret 2019.

Secara akumulatif, total impor pada Januari-Maret mengalami penurunan sebesar 3,69% menjadi US$ 39,17 miliar dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 40,67 miliar.

Berdasarkan penggunaannya, impor barang konsumsi pada Januari-Maret naik 7,11% dari US$ 3,38 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi US$ 3,62 miliar.

Kemudian, impor barang baku/penolong turun 2,62% menjadi US$ 29,69 miliar dari US$ 30,55 miliar pada Januari-Maret 2019 lalu.

Impor barang modal pada Januari-Maret 2020 juga mengalami penurunan  13,07% menjadi US$ 5,86 miliar dari US$ 6,74 miliar pada periode Januari-Maret 2019.

Baca Juga :   BPS: Impor Turun 22,32% di April 2023

Neraca Dagang

Suryanto mengatakan berdasarkan data ekpor dan impor pada Maret 2020 lalu, maka Indonesia masih mengalami surplus sebesar US$ 743 juta.  “Selama bulan Maret kita masih mengalami surplus, tentu ini menajdi berita yang menggembirakan. Kita akan lihat bagaimana pergerakan April, Mei dan seterusnya di tengah situasi yang masih tidak menentu,” ujarnya.

Secara akmulatif dari Januari hingga Maret, neraca perdagagan Indonesia juga masih surplus sebesar US$2,62 miliar. Suryanto mengatakan posisi ini  masih jauh lebih bagus dibandingkan posisi neraca perdagangan Januari-Maret 2019 yang pada waktu itu mengalami defisit sebesar US$ 62,8 juta.

“Sekali lagi angka ini cukup mengembirakan di tengah situasi yang tidak menentu tetapi kita tetap perlu mewaspadai komposisi impor kita di mana selama Janauri-Maret 2020 impor bahan baku mengalami penurunan 2,62%, impor barang modal mengalami penurunan 13,07%, yang kemungkinan besar akan berpengaruh pada pergerakan sektor industri, perdagangan, PMTB, dan investasi,” ujarnya.

 

Leave a reply

Iconomics