Astra International Bukukan Laba Bersih Rp 25,7 T pada Kuartal III/2023 atau Naik 10% Dibanding 2022
Gedung Astra/Foto: Dok.Astra
PT Astra International Tbk mencatatkan laba bersih senilai Rp 25,7 triliun pada Kuartal III/2023. Pencapaian tersebut naik 10% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 23,3 triliun.
Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro mengatakan, perhitungan laba bersih tersebut telah melalui penyesuaian nilai wajar atas investasi Astra di GoTo dan Hermina. Apabila tidak memperhitungkan hal itu, maka laba bersih Astra Grup mencapai Rp 26,1 triliun, lebih tinggi 17% dari periode yang sama pada tahun lalu.
Peningkatan tersebut, kata Djony, mencerminkan naiknya kinerja divisi bisnis Astra Grup, terutama pada divisi otomotif dan jasa keuangan. “Kinerja grup sepanjang 9 bulan pertama tahun 2023 cukup baik, mencerminkan
pemulihan pasca-pandemi yang terus berlanjut,” kata Djony dalam keterangan resminya, Selasa (31/10) kemarin.
Masih di periode yang sama, kata Djony, pendapatan bersih konsolidasian grup sebesar Rp 240,9 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada 2022. Kemudian, nilai aset bersih per saham pada 30 september 2023 sebesar Rp 4.713 atau lebih rendah 1% dibandingkan 31 Desember 2022.
Djony melanjutkan, kas bersih (tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan grup) sebesar Rp 14,6 triliun pada 30 September 2023. Utang bersih anak perusahaan jasa keuangan grup sebesar Rp 50,4 triliun pada akhir September 2023.
Dari sisi kegiatan bisnis Astra Grup, kata Djony, laba bersih divisi otomotif grup meningkat 35% menjadi Rp 9,2 triliun dan hal itu mencerminkan peningkatan volume penjualan. Jasa keuangan, laba bersih divisi keuangan grup mengalami peningkatan 33% menjadi Rp 5,9 triliun pada kuartal III 2023 ini.
Peningkatan itu, kata Djony, merupakan kontribusi bisnis pembiayaan konsumen dan asuransi umum. Berikutnya, laba bersih divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi grup mengalami penurunan 1% menjadi Rp 9,4 triliun karena kontribusi yang lebih rendah dari bisnis pertambangan batu bara dan emas.
Selanjutnya, ujar Djony, laba bersih divisi agribisnis grup turun 34% menjadi Rp 638 miliar. Penurunan itu disebabkan harga minyak kelapa sawit (CPO) yang lebih rendah. Lalu, divisi infrastruktur dan logistik grup membukukan kenaikan laba bersih sebesar 98% menjadi Rp 766 miliar selama 9 bulan pertama pada periode 2023.
Pencapaian itu, kata Djony, disebabkan peningkatan kinerja bisnis jalan tol, solusi transportasi dan logistik. Kemudian, divisi teknologi informasi grup mencatatkan peningkatan laba bersih 96% menjadi 96 miliar yang disebabkan adanya peningkatan margin usaha dan pendapatan.
Sementara itu, ujar Djony, divisi properti grup melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 5% menjadi Rp 114 miliar. Kenaikan itu didorong dari adanya peningkatan unit di Arumaya Residence dan naiknya jumlah hunian di Menara Astra.
“Kami melihat grup akan dapat tetap bertahan atau mampu di tengah ketidakpastian perekonomian global dan membukukan kinerja yang baik hingga akhir tahun dengan pertumbuhan yang moderat pada kuartal terakhir,” tutur Djony.