BSI Bukukan Laba Rp4,16 Triliun pada Semester I 2026, DPK Tumbuh 22%
Jajaran direksi BSI/Foto: Dok.BSI
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (Persero) atau BSI mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada semester I 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp4,16 triliun, meningkat 11% secara tahunan atau year on year (YoY), didukung pertumbuhan penghimpunan dana, ekspansi pembiayaan, serta peningkatan pendapatan berbasis biaya.
Pertumbuhan kinerja tersebut berlangsung seiring dengan penguatan fondasi teknologi dan transformasi digital yang dilakukan BSI. Hingga Juni 2026, jumlah nasabah BSI mencapai 24,3 juta atau menjadi yang tertinggi sejak perseroan berdiri.
Dana pihak ketiga (DPK) BSI tumbuh 22% secara tahunan menjadi Rp393 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA) menjadi Rp238 triliun, yang terdiri atas tabungan sebesar Rp173 triliun dan giro Rp65,5 triliun.
Komposisi pendanaan yang semakin efisien juga mendorong penurunan cost of fund (CoF) menjadi 2,19%. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjaga profitabilitas.
Di sisi intermediasi, pertumbuhan pembiayaan BSI berlangsung di seluruh segmen bisnis. Pembiayaan wholesale mencapai Rp95 triliun, pembiayaan ritel dan UMKM sebesar Rp55,83 triliun, sedangkan pembiayaan konsumer meningkat menjadi Rp189,25 triliun.
Ekspansi pembiayaan tersebut tetap diiringi dengan kualitas aset yang terjaga. Hal itu tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) Gross sebesar 1,80% dan NPF Net sebesar 0,33%.
Diversifikasi sumber pendapatan juga semakin menguat. Fee based income BSI meningkat 38,15% menjadi Rp4,1 triliun, didorong pertumbuhan ekosistem bisnis, termasuk bisnis emas dan transaksi digital. Secara keseluruhan, total aset BSI mencapai Rp464,5 triliun atau tumbuh 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, investasi besar yang dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sistem teknologi informasi, tetapi juga membangun pengalaman transaksi yang lebih cepat, aman, dan andal bagi jutaan nasabah.
“Teknologi bukan lagi sekadar fungsi pendukung operasional. Bagi BSI, teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Semakin baik pengalaman nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar akuisisi nasabah, dan semakin luas peluang untuk mengembangkan seluruh ekosistem layanan keuangan syariah,” ujar Anggoro, Jumat (20/8).
Menurutnya, penguatan kapabilitas teknologi telah meningkatkan kapasitas sistem BSI secara signifikan sehingga mampu mengakomodasi pertumbuhan volume transaksi dan jumlah pengguna digital yang terus meningkat.
Penguatan teknologi tersebut mulai tercermin dalam pertumbuhan basis nasabah. Hingga Juni 2026, jumlah nasabah BSI mencapai 24,3 juta, tertinggi sepanjang sejarah perseroan. Setelah transformasi teknologi selesai pada Mei 2026, jumlah nasabah BSI bertumbuh lebih dari 200 ribu per bulan.
Pertumbuhan basis nasabah tersebut membuka peluang bagi BSI untuk memperluas bisnis, mulai dari peningkatan dana murah, pembiayaan, transaksi digital, wealth management, bisnis emas, hingga layanan haji dan umrah. Pertumbuhan itu juga didukung kombinasi dual licence BSI sebagai bank syariah dan bank emas atau bulion.
Fondasi teknologi yang semakin kuat turut menjadi landasan pengembangan layanan digital melalui BYOND by BSI, yang menjadi kanal utama transaksi nasabah. Sepanjang 2026, interaksi nasabah melalui platform tersebut tercermin dari sekitar 1 miliar akses login.
Melalui BYOND by BSI, nasabah dapat mengakses berbagai layanan dalam satu platform, mulai dari transaksi harian, investasi, pembiayaan, pengelolaan emas, hingga layanan haji.
BSI juga memperluas solusi digital melalui Hasanah KKI Card Digital, yang merupakan kartu KKI syariah pertama di Indonesia. Melalui Hasanah Digital, nasabah dapat mengakses pembiayaan virtual tanpa kartu fisik secara lebih mudah, fleksibel, dan real time melalui aplikasi BYOND by BSI.
Nasabah dapat memperoleh limit pembiayaan mulai dari Rp4 juta hingga Rp100 juta dengan berbagai fitur, antara lain cicilan 0%, sumber dana pembayaran QRIS, pemantauan limit, tagihan, riwayat transaksi, hingga notifikasi transaksi secara real time.
Selain itu, BSI terus melengkapi layanan digitalnya dengan sejumlah fitur, seperti Nabung Rutin Haji, Gadai dari Cicil Emas yang akan lunas, serta pembukaan rekening tabungan yang terintegrasi dengan tabungan emas dan tabungan haji. Perseroan juga menghadirkan fitur BYOND Affiliate yang memungkinkan nasabah merekomendasikan BYOND sekaligus memperoleh reward sebagai affiliator.
Penguatan digital tersebut turut memperbesar ekosistem bisnis BSI. Hingga Juni 2026, BSI melayani 7,69 juta nasabah haji, 1,22 juta nasabah emas, 594,6 ribu nasabah cicil emas, 209,7 ribu nasabah gadai emas, serta lebih dari 585 ribu merchant QRIS.
Anggoro menegaskan bahwa peningkatan jumlah nasabah bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari peluang pertumbuhan bisnis yang lebih besar.
“Dengan fondasi teknologi yang semakin kuat, kapasitas sistem yang semakin andal, dan basis nasabah yang terus bertambah, kami memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendalaman hubungan dengan nasabah melalui berbagai solusi keuangan syariah. Ke depan, fokus kami bukan hanya menambah jumlah nasabah, tetapi meningkatkan nilai yang dapat kami berikan kepada setiap nasabah melalui layanan digital yang semakin relevan, mudah, dan terintegrasi”.