Transisi Menuju EV Dinilai Gerakkan Ekonomi Hijau, tapi Butuh Desain Fiskal yang Tepat
Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai transisi menuju kendaraan listrik (EV) menjadi salah satu penggerak ekonomi hijau di Indonesia. Dan Indonesia sedang memasuki tahap hilirisasi, tidak lagi untuk menambah nilai ekspor.
Tetapi, kata Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi Kementerian Investasi/BKPM Ahmad Faisal Suralaga, menjadi suatu ekosistem industri yang berkelanjutan, dan terintegrasi dari hulu ke hilir. Dari sini, Indonesia memperoleh nilai tambah dan daya saing yang jauh lebih kuat.
“Ekosistem dalam negeri terbentuk, ekspor meningkat, devisa bertambah, dan lapangan kerja tumbuh lebih dari 10 ribu tenaga kerja telah terserap dari proyek-proyek yang sudah berjalan. Ke depan, tantangannya adalah memperkuat ekosistem dalam negeri agar manfaat ekonomi ini terus berlipat,” kata Ahmad dalam acara Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2025 di Jakarta, Jumat (10/10).
Sementara itu, Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan, untuk menuju ke arah yang tepat, dibutuhkan desain kebijakan fiskal yang cermat dalam mempercepat transisi kendaraan listrik.
Andry menambahkan, penerapan cukai emisi bisa menjadi salah satu strategi fiskal yang berkelanjutan, karena mampu mengkompensasi. Bahkan melebihi potensi kehilangan pajak tahunan akibat insentif kendaraan listrik yang mencapai 111%.
Berdasarkan data Indef, kata Andry, potensi beban fiskal untuk kendaraan berbahan bakar fosil mencapai sekitar Rp 308 triliun per tahun. Angka ini, 96% lebih besar dibanding potensi penerimaan negara yang hilang akibat insentif kendaraan listrik sebesar Rp 14,7 triliun per tahun.
“Selain itu, struktur tarif cukai ini akan menciptakan sistem yang lebih adil karena memberi disinsentif bagi kendaraan tinggi emisi tanpa membebani pengguna kendaraan rendah emisi,” ujar Andry.
Sedangkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik (Aismoli) R. Hanggoro Ananta mengatakan, keberhasilan kendaraan listrik akan menciptakan efek berganda terhadap industri nasional, dan penyerapan tenaga kerja.
Transisi kendaraan listrik, kata Hanggoro, bukan hanya sekadar menuju ke arah nol emisi, tetapi menjadi jalan menuju ekonomi hijau yang memperkuat kemandirian bangsa, dan membuka lapangan kerja berkualitas.
“Untuk mencapainya, kita perlu memperkuat rantai pasok lokal, mengembangkan riset teknologi baterai, dan mengintegrasikan energi terbarukan agar industri ini tumbuh dari inovasi dalam negeri, bukan dari ketergantungan pada impor,” kata Hanggoro.