ADB Dorong Transisi Energi di Asia Tenggara Lewat Skema Pembiayaan Inovatif dan Kemitraan Regional

0
85

Bank Pembangunan Asia (ADB) menegaskan komitmennya untuk mempercepat transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara melalui berbagai inisiatif strategis, mulai dari pembiayaan inovatif, integrasi sistem energi lintas negara, hingga pengembangan pasar karbon.

Hal itu disampaikan Parjiono, Direktur Eksekutif ADB untuk Armenia, Kepulauan Cook, Fiji, Indonesia, Republik Kirgiz, Selandia Baru, Niue, Samoa, dan Tonga, dalam acara The 2nd Indonesia–Mekong Basin Connect Forum: Energy Security Cooperation in the Region yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri RI di Hotel Tentrem Jakarta, Alam Sutera, Rabu (16/10).

“Wakil Menteri Arif Havas Oegroseno telah mengatakan bahwa semua upaya tidak akan mungkin tercapai kecuali jika saluran keuangan tersedia. Saya mewakili Bank Pembangunan Asia (ADB), ingin memberikan perspektif kami,” ujar Parjiono membuka paparannya.

BACA: Wamenlu RI Soroti Kesenjangan Pembiayaan dalam Transisi Energi 

Menurutnya, seluruh negara anggota Mekong Basin Connect Forum merupakan anggota ADB, sehingga kolaborasi kawasan menjadi kunci dalam mewujudkan transisi energi yang adil dan inklusif. “Saya ingin menyampaikan pandangan mengenai transisi menuju energi terbarukan dan bersih melalui pembiayaan inovatif, regionalisasi, dan kemitraan, yang memiliki tanggung jawab penting bagi masyarakat kita,” katanya.

Tiga Fokus ADB dalam Transisi Energi

Parjiono memaparkan, ada tiga fokus utama ADB dalam mendukung transisi energi di kawasan.

Pertama, ADB memprioritaskan investasi pada sektor energi ASEAN. Kedua, memperkuat kerja sama regional, termasuk inisiatif keuangan hijau, penerbangan rendah karbon, dan pengembangan pasar karbon. Ketiga, memperluas dukungan bagi Indonesia—baik di sektor publik maupun swasta—sebagai motor utama energi bersih di Asia Tenggara.

Baca Juga :   Dorong Transisi Energi dan Pembangunan Rendah Karbon, Indonesia dan ADB Perkuat Kerja Sama Regional

“Kemajuan energi berkelanjutan di Asia Tenggara tidak hanya bergantung pada teknologi dan investasi, tetapi juga pada kemitraan yang kuat, solidaritas regional, serta komunikasi dan peluang yang terus berkembang,” tegasnya.

ADB saat ini memiliki 12 proyek aktif di kawasan Asia Tenggara dengan total nilai 3,23 miliar dolar AS, di mana Indonesia memegang porsi terbesar, yakni sekitar 2 miliar dolar AS atau 63% dari total komitmen.

Untuk periode 2025–2028, pipeline proyek ADB meningkat menjadi 25 proyek dengan nilai 7,62 miliar dolar AS, dan Indonesia menyumbang 5,2 miliar dolar AS atau 68% dari total pipeline tersebut. Angka ini, kata Parjiono, mencerminkan komitmen kuat ADB terhadap transisi energi dan pengembangan pasar karbon di kawasan.

Salah satu inisiatif penting yang disoroti adalah ASEAN Power Grid (APG) — proyek strategis untuk menghubungkan sistem kelistrikan nasional di seluruh Asia Tenggara. Tujuannya, agar negara-negara di kawasan dapat saling berbagi sumber daya energi, menyeimbangkan pasokan, dan mendukung satu sama lain saat terjadi krisis energi.

Inisiatif ini merupakan bagian dari kerangka ASEAN Connectivity dan Energy Cooperation, dengan visi mewujudkan sistem energi terintegrasi penuh pada 2045. Saat ini, dari 18 koneksi prioritas, sembilan sudah beroperasi, sementara sisanya masih dalam tahap pengembangan, termasuk pembangunan kabel transmisi lintas negara.

Baca Juga :   Mastercard Bangun Aliansi untuk Industri Ritel, Apa yang Dilakukan di Indonesia?

Skema APTF dan PACE untuk Pembiayaan Proyek Energi

ADB juga mendorong implementasi ASEAN Power Transition Framework (APTF) — sebuah kerangka kerja yang dirancang untuk memperluas akses terhadap proyek-proyek energi, mempercepat transisi menuju keberlanjutan, serta memobilisasi tambahan modal dan instrumen keuangan agar proyek energi lebih layak secara komersial.

APTF merupakan kolaborasi antara ADB, World Bank, Sekretariat ASEAN, ASEAN Centre for Energy, dan berbagai mitra pembangunan lain. Parjiono menjelaskan, APTF berfungsi sebagai jembatan antara pemerintah ASEAN, pengembang proyek, dan komunitas pendanaan.

Selain itu, ADB juga menginisiasi Partnership for ASEAN Connectivity on Energy (PACE) — sebuah forum keuangan yang memfasilitasi kolaborasi antara lembaga pembangunan, sektor keuangan, dan investor untuk memperkuat proyek-proyek energi lintas kawasan.

Parjiono menegaskan, ADB juga aktif mendukung pengembangan mekanisme pasar karbon di Asia. Saat ini, tujuh negara telah memiliki atau mengumumkan sistem perdagangan karbon nasional. Indonesia, ujarnya, mengambil pendekatan hibrida dengan menggabungkan perdagangan karbon dan pajak karbon.

“Sebagai mitra utama ADB, Indonesia berkomitmen membangun mekanisme pasar karbon yang kuat, dengan potensi 557 juta ton karbon yang siap dimanfaatkan untuk kerja sama internasional,” jelasnya.

Baca Juga :   PP Resmikan SPALDT Pekanbaru Seluas 1,57 Hektare dan Berkapasitas 8.100 Meter Kubik

BACA: Indonesia Tegaskan Komitmen Menuju Net-Zero Emission 2060 di Forum Indonesia–Mekong Basin Connect

Hingga Agustus 2025, portofolio aktif ADB di Indonesia mencapai 5,2 miliar dolar AS, mencakup 20 proyek investasi dan hibah, dengan sektor energi sebagai porsi terbesar (27%).

Sementara itu, di sektor swasta, nilai operasi non-sovereign ADB di Indonesia telah mencapai 1,1 miliar dolar AS, yang terdiri atas 45 proyek investasi dan lima jaminan pinjaman.

Parjiono menutup paparannya dengan menekankan pentingnya kolaborasi regional dalam mencapai transisi energi yang adil dan efisien.

“Masa depan energi Asia Tenggara sangat bergantung pada kemampuan kita untuk bekerja sama, berbagi sumber daya, memobilisasi pembiayaan, dan memperkuat kemitraan. ADB tetap berkomitmen mendukung negara-negara di kawasan dalam mendorong transisi energi bersih, konektivitas regional, dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan kerja sama yang solid dan efisien, ia menambahkan, Asia Tenggara dan kawasan Mekong berpotensi menjadi model global bagi pertumbuhan ekonomi hijau yang inklusif dan berketahanan energi.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics