APPI Proyeksikan Piutang Pembiayaan Tumbuh 6% pada 2026 di Tengah Tekanan Global

0
104

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memperkirakan piutang pembiayaan pada 2026 akan tumbuh lebih baik, meski industri masih menghadapi berbagai tantangan global.

Ketua APPI, Suwandi Wiratno menyampaikan bahwa memasuki tahun 2026, industri pembiayaan berupaya bangkit setelah pada 2025 mengalami tekanan pertumbuhan yang cukup berat, bahkan tercatat tumbuh di bawah 1%. 

“Kami semua bersama-sama OJK tentunya berharap  supaya di tahun 2026,  di tengah banyaknya sekali tantangan, kita bisa tumbuh sekitar 6%,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara CEO Forum yang diselenggarakan Theiconomics.com, Kamis (23/4).

Meski demikian, ia mengakui target tersebut tidak mudah dicapai. Hingga Februari 2026, pertumbuhan piutang pembiayaan baru berada sedikit di atas 1%, namun sudah menunjukkan perbaikan dibandingkan penutupan tahun sebelumnya.

Menurutnya, ketidakpastian geopolitik global masih menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi menahan laju pertumbuhan. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dinilai memberi tekanan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

“Kita semua berharap perang ini segera berakhir sehingga tidak lagi mempunyai efek atau dampak terhadap perekonomian baik di dunia maupun di Indonesia,” ujarnya.

Berdasarkan data OJK, kinerja industri Perusahaan Pembiayaan (PP) menunjukkan perbaikan pada awal 2026. Piutang pembiayaan tercatat tumbuh sebesar 1,01% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Februari 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan Januari 2026 yang sebesar 0,78% yoy, dengan total nilai mencapai Rp512,14 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh pembiayaan modal kerja yang meningkat signifikan sebesar 8,31% yoy.

Dari sisi risiko, profil industri tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,78%, sedikit meningkat dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 2,72%. Sementara itu, NPF net justru membaik menjadi 0,81% dari sebelumnya 0,82%.

Baca Juga :   Waswas Sistem Keamanan Baterai Lithium pada Kendaraan Listrik

Selain itu, tingkat leverage yang tercermin dari gearing ratio berada di level 2,13 kali, sedikit naik dari 2,11 kali pada Januari 2026, namun masih jauh di bawah ambang batas maksimum yang ditetapkan sebesar 10 kali. Hal ini menunjukkan ruang ekspansi industri pembiayaan masih cukup terjaga di tengah upaya mendorong pertumbuhan.

Peluang dari Mobil Listrik 

Mengutip data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang Januari-Maret 2026, penjualan mobil relatif stagnan. Penjualan roda empat mencapai 209.021 unit unit, tumbuh tipis dari 205.539 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara menurut Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan sepeda motor pada Januari-Maret 2026 sebesar 1.614.091 unit, turun 4,1% dari 1.683.262 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Saat industri otomotif secara keseluruhan lesu, kabar baiknya penjualan mobil listrik meningkat tajam. Menurut Gaikindo, penjualan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) menunjukkan lonjakan signifikan pada kuartal I-2026. Sepanjang periode tersebut, penjualan BEV tercatat mencapai 33.150 unit, meningkat tajam sebesar 95,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 16.926 unit.

Kenaikan ini juga diikuti dengan peningkatan kontribusi BEV terhadap total penjualan mobil nasional. Pada kuartal I-2025, penjualan BEV baru menyumbang sekitar 8,2 persen dari total penjualan 205.539 unit. Namun, pada kuartal I-2026, pangsanya melonjak hampir dua kali lipat menjadi sekitar 15,9 persen dari total 209.021 unit.

Sementara itu, kendaraan hybrid (hybrid electric vehicle/HEV) juga mencatatkan kinerja penjualan yang cukup kuat pada kuartal I-2026. Sepanjang periode tersebut, penjualan HEV mencapai 16.940 unit, meningkat 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 13.964 unit.

Baca Juga :   Ini yang Dilakukan Pemerintah untuk Tutupi Funding Gap Infrastruktur Senilai Rp 1.435 T

Peningkatan ini turut mendorong kontribusi HEV terhadap total penjualan otomotif nasional. Jika pada kuartal I-2025 pangsa HEV masih berada di kisaran 6,8 persen, maka pada periode yang sama tahun 2026 kontribusinya naik menjadi sekitar 8,1 persen.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian mencatat industri kendaraan listrik nasional menunjukkan perkembangan yang semakin pesat. Saat ini, terdapat 14 perusahaan yang bergerak di bidang perakitan mobil listrik dengan total kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun.

Di segmen roda dua, tercatat sebanyak 68 perusahaan sepeda motor listrik dengan kapasitas produksi yang jauh lebih besar, yakni mencapai 2,51 juta unit per tahun. Sementara itu, pada segmen kendaraan umum, terdapat sembilan perusahaan bus listrik dengan kapasitas produksi sekitar 4.100 unit per tahun.

Seiring dengan pertumbuhan tersebut, total investasi yang telah masuk ke sektor kendaraan listrik nasional juga terus meningkat, yang kini mencapai Rp25,674 triliun. Hal ini mencerminkan kuatnya minat industri dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Pertumbuhan kendaraan listrik ini tentu menjadi kabar baik bagi pelaku industri multifinance.

Suwandi menilai kebijakan dan insentif pemerintah telah mendorong peningkatan minat masyarakat terhadap mobil listrik, khususnya di kota-kota besar.

“Kalau kita bicara mobil listrik, ini memang menjadi program atau promosi khusus dari pemerintah. Di kota besar, mobil listrik bebas ganjil-genap, dan ini ditanggapi positif oleh masyarakat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, penjualan mobil listrik saat ini mulai menunjukkan kontribusi signifikan terhadap total penjualan kendaraan nasional. “Market share mobil listrik sudah mencapai sekitar 12 persen dari total penjualan mobil, baik dibandingkan dengan kendaraan berbasis mesin pembakaran (internal combustion engine),” kata Suwandi.

Baca Juga :   PLN Aktifkan Serentak 300 Home Charging di Jakarta, Lebih Dari 3.000 Telah Terpasang Hingga 2024

Meski demikian, penetrasi mobil listrik dinilai masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Di daerah, adopsinya belum merata karena keterbatasan infrastruktur dan faktor daya beli.

Suwandi juga menyoroti komitmen pemerintah dalam mendorong ekosistem kendaraan listrik, termasuk melalui pengembangan industri dalam negeri. Ia menyinggung peresmian pabrik mobil listrik oleh Presiden Prabowo Subianti di Jawa Timur baru-baru ini sebagai bagian dari upaya memperkuat produksi nasional.

“Ini adalah bagian dari cita-cita menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan, mengurangi polusi, dan menjawab tantangan perubahan iklim,” ujarnya.

Ke depan, Suwandi optimistis kendaraan berbasis listrik, termasuk hybrid, akan menjadi pengganti kendaraan konvensional. Namun, ia menegaskan bahwa peningkatan pangsa pasar tetap bergantung pada preferensi masyarakat.

“Semua kembali kepada pilihan masyarakat. Kalau masih melihat mobil non-listrik punya nilai jual tinggi, tentu adopsinya akan bertahap,” jelasnya.

Ia menambahkan, nilai ekonomis mobil listrik tidak hanya dilihat dari harga beli, tetapi juga dari efisiensi penggunaan. “Nilai jual mobil listrik itu sebenarnya saat digunakan. Kalau dipakai aktif setiap hari untuk commuting, penghematannya cukup besar. Itu yang menjadi keunggulan,” katanya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics