Bank Indonesia Pertahankan BI Rate di Level 4,75% Setelah Enam Kali Dipangkas

0
51

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Oktober 2025 ini memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%, setelah dalam setahun terakhir — sejak September 2024 — bank sentral menurunkan suku bunga acuan sebanyak enam kali atau total 125 basis poin.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 21 dan 22 Oktober 2025 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,5 persen,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (22/10).

Menurut Perry, keputusan mempertahankan tingkat suku bunga ini sejalan dengan pandangan Bank Indonesia terhadap stabilitas ekonomi dan inflasi ke depan. Ia mengatakan, Bank Indonesia memperkirakan inflasi tahun 2025 dan 2026 akan tetap terjaga rendah dalam kisaran sasaran 2,5 ± 1 persen.

Keputusan bank sentral mempertahankan suku bunga acuan juga merupakan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Langkah ini juga menjadi bagian dari sinergi kebijakan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga :   BI Optimistis Pemulihan Ekonomi Bisa Tercapai Tahun Ini

Perry menegaskan bahwa Bank Indonesia akan tetap berhati-hati dan mencermati berbagai indikator ekonomi sebelum mengambil langkah lanjutan.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati efektivitas transmisi kebijakan moneter yang telah ditempuh, prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi, serta stabilitas nilai tukar rupiah dalam memanfaatkan ruang penurunan suku bunga BI Rate,” ujarnya.

Lebih lanjut, Perry menyebut penguatan kebijakan makroprudensial sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

“Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan makroprudensial untuk semakin mendorong penurunan suku bunga, peningkatan likuiditas, dan kenaikan pertumbuhan kredit serta pembiayaan guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” katanya.

Selain kebijakan moneter dan makroprudensial, Bank Indonesia turut memperkuat sistem pembayaran agar lebih efisien dan inklusif.

“Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, dan peningkatan daya tahan infrastruktur sistem pembayaran,” ujarnya.

Perry menegaskan arah besar kebijakan Bank Indonesia yang akan terus berfokus pada keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.

Baca Juga :   Bank Indonesia Pangkas Lagi Suku Bunga Acuan 25 Bps

“Arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran ini ditujukan untuk mempertahankan stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, didukung oleh langkah-langkah terkoordinasi di berbagai sektor,” ujarnya.

 

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics