Bank Mandiri: Sudah Lima Kali Dipangkas, BI Rate Berpeluang Turun Lagi
Ilustrasi Bank Mandiri/Foto: Dok. Bank Mandiri
Bank Mandiri menilai tren pelonggaran moneter global yang dipimpin oleh The Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan People’s Bank of China (PBOC) akan membuka ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali memangkas suku bunga acuan pada 2025, setelah sudah melakukan pemangkasan sebanyak empat kali pada tahun ini (Januari, Mei, Juni dan Agustus).
Kebijakan ini dinilai penting untuk menopang momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid di tengah ketidakpastian global.
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Ari Rizaldi, mengungkapkan bahwa pasar saat ini tengah menanti langkah The Fed yang diproyeksikan memangkas suku bunga acuan ke level 4,25%, dengan target dua kali pemangkasan hingga 4% pada akhir 2025. Konsensus pasar bahkan sudah menilai probabilitas penurunan suku bunga Fed Fund Rate mencapai 89%.
“Keputusan yang tidak mudah untuk dibuat karena memang kita lihat The Fed menghadapi situasi di mana data-data ekonomi AS sendiri belum secara meyakinkan berada di range yang ditargetkan mereka, terutama kalau kita lihat inflasi AS yang diperkirakan masih tinggi karena dampak penerapan tarif di semester II ini. Di sisi lain kalau kita lihat, konsumen AS sangat membutuhkan pemangkasan suku bunga untuk meringankan beban biaya hidup mereka,” kata Ari dalam dalam acara Mandiri Economic Outlook Q3 2025, Kamis (28/8).
Senada, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menegaskan bahwa arah kebijakan moneter global masih akomodatif.
“Saat ini kalau kita lihat dari hasil statement Chairman The Fed, Jerome Powell yang relatif dovish terkait dengan arah kebijakan The Fed ke depan, memang The Fed masih konsisten akan arah suku bunga acuannya ke 4 persen. Jadi, ada pemangkasan sebesar 50 basis poin. Tentu saja nanti pembuktian pertamanya adalah di bulan September ini, apakah The Fed akan benar-benar memangkas suku bunga acuannya 25 basis atau tidak. Tapi kalau kita lihat dari CME FedWatch atau probabilitas dari yang disampaikan oleh market sendiri terhadap pemangkasan suku bunga acuan sudah mencapai lebih dari 85 persen,” kata Andry.
Pada saat yang sama, tambah Andry, penurunan suku bunga acuan oleh ECB “kemungkinan sudah mencapai bottom”.
“Jadi, kemungkinan akan tetap stay di 2,15 persen sampai dengan akhir tahun. Namun PBOC itu masih akan ada ruang untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis,” ujarnya.
Jadi, secara umum, kata Andry, ruang penurunan suku bunga acuan di berbagai negara yang sudah terjadi, “masih akan terjadi lagi” pada 2025 ini.
Bank Indonesia yang sudah empat kali menurunkan BI Rate sepanjang Januari hingga Agustus ini, diperkirakan masih kembali menurunkannya lagi hingga akhir tahun dan berlanjut ke tahun depan.
“Kita melihat ada satu kali lagi ruang pemangkasan (BI Rate) di tahun ini sebelum kemudian dilanjutkan di tahun 2026 nanti,” ujar Andry.
Ari Rizaldi menekankan bahwa perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Pada kuartal II-2025, Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,12% year-on-year, naik dari 4,87% di kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang konsumsi masyarakat saat liburan sekolah, realisasi belanja pemerintah yang lebih baik, serta kinerja ekspor yang tetap positif.
Stabilitas ekonomi juga tercermin dari inflasi Juli 2025 yang hanya 2,37% yoy, masih dalam kisaran target BI. Kondisi pasar keuangan membaik dengan penguatan IHSG ke 7.936, stabilnya rupiah, serta turunnya imbal hasil SBN tenor 10 tahun ke 6,33%.
“Kami memandang bahwa ruang pemangkasan kembali bunga acuan (BI Rate) ini masih relatif besar, dengan tentunya dukungan data inflasi dan juga nilai tukar yang relatif stabil, serta ekspektasi pemangkasan dari Fed Fund Rate itu sendiri,” kata Ari.
Asmoro menambahkan, dukungan kebijakan fiskal pemerintah juga akan semakin ekspansif di semester II melalui percepatan belanja.
“Saya rasa konsolidasi dari pemerintah dalam membelanjakan anggarannya sudah terjadi di sepanjang semester I ini dan saya rasa seharusnya di semester II akan bisa mengejar untuk akselerasi belanja fiskalnya dan pada akhirnya akan mendorong dua sisi, yaitu kalau kita lihat dampak kepada pertumbuhan dan juga kepada likuiditas di perbankan,” ujar Andry.
Dari sisi perbankan, Ari Rizaldi menegaskan industri masih dalam kondisi solid. Kredit perbankan tumbuh 7,03% yoy, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 7% yoy, menjaga Loan to Deposit Ratio (LDR) di 86,5%. Bank Mandiri mencatat pertumbuhan lebih tinggi dari industri, terutama di kredit wholesale (15,8% yoy) dan KPR (14,2% yoy). Kualitas aset tetap terjaga dengan NPL hanya 1,06%, jauh di bawah rata-rata industri.
“Bank Mandiri akan terus menjaga pertumbuhan yang sehat dan pastinya mengedepankan prinsip kehatian-kehatian agar tetap tangguh dalam menghadapi berbagai siklus ekonomi dan dinamika pasar. Kinerja tersebut juga menunjukkan konsistensi Bank Mandiri dalam melakukan fungsi intermediasi dan mendukung berbagai program inisiatif pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan inklusif,” kata Ari.
Mandiri menilai, meski tantangan global masih besar, peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terbuka lebar berkat bauran kebijakan yang akomodatif, stabilitas fundamental, dan peran perbankan dalam mendukung pembiayaan sektor riil.
“Kami meyakini berbagai kebijakan pemerintah yang ekspansif dan berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi itu akan dapat menimbulkan optimisme dan membuka berbagai peluang. Berbagai program prioritas yang dicanangkan tentu saja akan berdampak positif pada pertumbuhan sektor yang terkait dalam ekosistemnya,” kata Ari.