Beberapa Komoditas Pangan Jadi Peredam Inflasi Selama Ramadan, Tetapi Waspadai Bawang Merah yang Makin Perih

0
28

Tingkat inflasi selama April 2024, yang bertepatan dengan momen lebaran ternyata lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan Maret 2024 yang merupakan awal ramadan.

Inflasi pada April 2024 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi periode lebaran pada tiga tahun sebelumnya yaitu pada April 2023, Mei 2022 dan Mei 2021.

Demikian disampaikan Badan Pusat Statisitk [BPS] dalam publikasi bulanan awal Mei 2024.

Amalia Adininggar Widyasanti, Plt Kepala BPS menyampaikan pada April 2024, terjadi inflasi sebesar 0,25% secara bulanan atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen [IHK] dari 106,13 pada Maret 2024 menjadi 106,40 pada April 2024.

Secara tahunan atau year on year terjadi inflasi sebesar 3,0% dan secara tahun kalender atau year to date terjadi inflasi sebesar 1,19%.

Tingkat inflasi bulanan April 2024 lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan bulan yang sama pada tahun lalu.

Rendahanya tingkat inflasi bulanan pada April 2024, dibandingkan Maret 2024 dan momen lebaran beberapa tahun sebelumnya, jelas Amalia, terjadi karena pada April 2024, komponen harga bergejolak mengalami deflasi setelah sebelumnya mengalami tekanan inflasi selama 7 bulan berturut-turut.

Baca Juga :   3 Proyek Prioritas Mendapat Respons Positif dari Pebisnis Jepang

“Komoditas yang meredam inflasi pada bulan ini diantaranya cabe merah,beras,telur ayam ras dan cabe rawit dengan andil deflasi masing-masing sekitar 0,14%;0,12%; 0,06% dan 0,04%,” ungkap Amalai dalam konferensi pers, Kamis (2/5).

“Jika dilihat secara historis, sepanjang periode Januari 2021 hingga Maret 2024, komodotas cabe merah dan beras mengalami deflasi terdalam pada April 2024,” tambahnya.

Khusus beras, Amalia mengatakan, setelah mengalami inflasi selama 8 bulan berturut-turut sejak Agustus 2023, beras mengalami deflasi pada April 2023.

“Hal ini tentunya seiring dengan peningkatan produksi beras dan dampaknya tingkat inflasi beras terus menurun hingga mengalami deflasi pada April 2024 sebesar 2,72% dan memberikan andil deflasi sebesar 0,12%,” ujarnya.

Lantas apa yang menyebabkan inflasi pada April 2024?

Amalia menjelaskan, komponen utama penyumbang inflasi pada April 2024 bersumber dari
kelompok transportasi yaitu sebesar 0,12%, lebih tinggi dibandingkan andilnya pada bulan lalu yang hanya 0,01%.

“Kelompok transportasi merupakan kelompok penyumbang andil inflasi pada momen lebaran selama lima tahun terakhir. Tingginya andil inflasi kelompok transportasi pada April 2024 utamanya disebabkan oleh komoditas tarif angkutan udara dan tarif angkutan antara kota,” ujarnya.

Baca Juga :   Bulog Gelontorkan 100.000 Ton Beras untuk Operasi Pasar

Tarif angkutan udara mengalami inflasi sebesar 8,05% pada momen lebaran atau pada April 2024 setelah sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,97% pada Maret 2024.

Inflasi tarif angkutan antara kota, kata Amalia, mengalami tren kenaikan sejak Februari 2024 hingga momen lebaran pada April 2024.

Waspadai harga bawang merah yang makin perih

Meskipun secara umum terjadi deflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau, Amalia mengungkapkan, beberapa komoditas pangan masih mengalami inflasi dan menyumbang inflasi pada April 2024.

Dari 10 komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi, 6 diantaranya adalah komoditas pangan.

“Bawang merah adalah komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi,” ujarnya.

Pada April 2024, inflasi bawang merah melonjak 30,75% dan  memberikan andil inflasi sebesar 0,14%. Hal ini terjadi karena menurunnya suplai bawang merah di beberapa wilayah.

“Inflasi ini adalah yang tertinggi selama periode Januari 2021-April 2024 untuk bawang merah,” ujarnya.

Tingginya inflasi bawang merah, jelas Amalia, sejalan dengan laporan BMKG yang menyebut pada Maret 2024 curah hujan sangat tinggi terjadi di Jawa Tengah bagian utara.

Baca Juga :   Meski Tekanannya Mereda, Tingkat Inflasi di Indonesia Masih Tinggi

“Kami mencatat peristiwa ini berdampak pada harga bawang merah di bulan April 2024. Kenaikan Harga disebabkan karena terganggunya produksi di wilayah sentra karena banjir di sepanjang pantura [pantai utara Jawa], seperti Brebes,Cirebon, Kendal,Demak, Grobogan, Pati dan lain-lain,” jelasnya.

Komoditas pangan yang juga memberikan andil pada inflasi, tambah Amalia, adalah tomat. Tomat kembali mengalami inflasi setelah sebelumnya mengalami deflasi dua bulan berturut-turut.

Semetara itu, tekanan inflasi bawang putih, kata Amalia, sudah melandai seiring dengan realisasi impor bawang putih yang meningkat pada Maret 2024.

Tekanan inflasi daging ayam ras juga berkurang sejalan dengan peningkatan produksi daging dan juga peningkatan produksi jagung pipilan kering pada Maret dan April 2024.

Leave a reply

Iconomics