BI Dorong Pertumbuhan Uang Primer Double Digit demi Topang Ekonomi 2026

0
84

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk mendorong pertumbuhan uang primer (M0) hingga double digit mulai Desember 2025 dan berlanjut sepanjang 2026 sebagai bagian dari strategi ekspansi likuiditas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan moneter dijalankan melalui tiga instrumen utama, yaitu instrumen suku bunga, instrumen stabilisasi nilai tukar, serta instrumen pengelolaan atau ekspansi likuiditas melalui operasi moneter.

Untuk suku bunga, Bank Indonenesia sudah enam kali menurunkan BI Rate sejak September 2025 dengan total penurunan 150 basis poin hingga berada di level 4,75%. Penurunan tersebut dilakukan satu kali pada 2024 dan lima kali sepanjang 2025.

Sementara stabilisasi nilai tukar dilakukan melalui intervensi di pasar luar negeri dengan instrumen non-delivery forward (NDF) di pasar Asia, Eropa, dan Amerika Serikat secara berkesinambungan, serta intervensi di pasar valuta asing domestik, baik melalui transaksi tunai (spot), domestic NDF, maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Instrumen ketiga adalah ekspansi likuiditas. Bank Indonesia akan meningkatkan pertumbuhan uang primer dengan arah mulai Desember dan sepanjang tahun ke depan berada pada level double digit. 

“Itulah cara untuk bagaimana kita turut mendorong pertumbuhan ekonomi agar ekspansi likuiditas yang kami sudah alirkan ke perbankan bisa mengalir ke sektor real. Tentu saja sinergitas dengan kebijakan fiskal, karena bank sentral tidak bisa mengalirkan likuiditas ke sektor real. Makanya kami koordinasi erat dengan Pak Menteri Keuangan yang terus mendorong ekspansi fiskal agar aliran likuiditas di perbankan bisa mengalir ke sektor real,” jelas Perry dalam konferensi pers, Rabu (17/12).

Baca Juga :   3 Pesan Gubernur Bank Indonesia Melihat Ekonomi ke Depan

Perry menjelaskan, ekspansi likuiditas ke sektor keuangan, baik pasar uang maupun perbankan, dilakukan BI melalui beberapa cara. Pertama, menurunkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pada awal tahun, posisi SRBI tercatat sekitar Rp920 triliun, dan saat ini berada di kisaran Rp700 triliun. 

“Lebih dari Rp200 triliun kami menurunkan posisi SRBI dan itu menambah likuiditas,” ujarnya.

Kedua, Bank Indonesia juga menambah likuiditas melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Sepanjang 2025, total pembelian SBN mencapai Rp327,45 triliun, yang merupakan bagian dari upaya ekspansi likuiditas, di samping penurunan posisi SRBI.

Selain itu, Bank Indonesia meningkatkan efektivitas ekspansi likuiditas dengan memberikan remunerasi kepada perbankan yang menempatkan kelebihan likuiditasnya pada instrumen excess reserve. Remunerasi yang diberikan mencapai Rp25 triliun dengan tingkat bunga 3,5%, di bawah suku bunga deposit facility, guna mendorong perbankan menyalurkan likuiditas lebih optimal ke sektor riil.

Uang beredar melambat

Perry menyampaikan jumlah uang beredar perlu ditingkatkan melalui penguatan efektivitas ekspansi likuiditas moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Data BI menunjukkan, pada November 2025, pertumbuhan M0 yaitu tanpa memperhitungkan dampak penurunan Giro Wajib Minimum bank di Bank Indonesia karena pemberian insentif KLM,  tercatat sebesar 6,46% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 7,75% (yoy). 

Pertumbuhan uang Primer (M0) Adjusted, yaitu uang primer yang telah menetralisasi dampak KLM, juga tercatat melambat menjadi 13,33% (yoy) dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 14,38% (yoy). 

Baca Juga :   Fit & Proper Test Calon Dewan Gubernur BI: Jurus "Semangka" Solikin Juhro, Strategi Segar untuk Kursi Deputi Gubernur BI

Dari komponennya, pertumbuhan M0 yang melambat terutama dipengaruhi oleh berkurangnya penempatan excess reserves bank di Bank Indonesia. Dari faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M0 yang melambat dipengaruhi oleh masih rendahnya penyaluran kredit/pembiayaan sehingga mendorong perbankan menempatkan kelebihan likuiditasnya pada instrumen moneter Bank Indonesia. 

Sementara itu, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Oktober 2025 tercatat 7,72% (yoy), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan pada September 2025 sebesar 8,02% (yoy). 

Dari sisi faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M2 yang melambat dipengaruhi belum kuatnya permintaan kredit di tengah pasokan likuiditas perbankan yang telah meningkat. 

Dari sisi komponen, perlambatan M2 dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan giro dan surat berharga. Ke depan, pertumbuhan uang yang beredar perlu terus didorong melalui sinergi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah guna mendukung pertumbuhan ekonomi. 

Permintaan kredit belum kuat

BI juga menilai peran kredit perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi perlu terus ditingkatkan. Kredit perbankan pada November 2025 tercatat tumbuh sebesar 7,74% (yoy), meningkat dari 7,36% (yoy) pada bulan sebelumnya. 

Menurut BI, permintaan kredit terindikasi belum kuat dipengaruhi oleh perilaku wait and see dari pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, serta penurunan suku bunga kredit yang masih lambat.

BI melaporkan suku bunga deposito 1 bulan turun sebesar 67 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,14% pada November 2025. Namun, penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat dan karenanya perlu terus didorong, yaitu sebesar 24 bps dari 9,20% pada awal 2025 menjadi sebesar 8,96% pada November 2025.

Baca Juga :   Gubernur BI Perkirakan Tapering di Amerika Belum Dilakukan Tahun Ini

Fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada November 2025 masih besar, yaitu mencapai Rp2.509,4 triliun atau 23,18% dari plafon kredit yang tersedia. 

Sementara dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 29,67% dan DPK yang tumbuh sebesar 12,03% (yoy) pada November 2025. Perkembangan ini turut didorong oleh ekspansi likuiditas moneter dan pelonggaran KLM Bank Indonesia, serta ekspansi keuangan Pemerintah termasuk penempatan dana Pemerintah pada beberapa bank besar. 

Minat penyaluran kredit perbankan umumnya juga masih baik yang tecermin pada persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat peningkatan risiko kredit pada kedua segmen tersebut. Kondisi ini memengaruhi pertumbuhan kredit UMKM November 2025 yang terkontraksi sebesar 0,64% (yoy). 

Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2025 berada pada batas bawah kisaran 8-11% (yoy) dan akan meningkat pada 2026. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan serta memperbaiki struktur suku bunga.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics