BI Rate Sudah Digunting Tiga Kali,  Bank Janji akan Segera Turunkan Suku Bunga

0
95

Meski Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunga acuan, BI Rate, sebanyak tiga kali tahun ini, tetapi perbankan masih enggan menurunkan suku bunga deposito dan kredit. Penyaluran kredit pun masih lesu karena bank masih doyan menyimpan likuiditasnya di surat berharga.

Kondisi ini membuat BI gerah. Bank sentral pun mendorong perbankan agar menurunkan suku bunga dana dan pinjaman untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang lagi lesu.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Hendra Lembong mengatakan, penurunan BI Rate memang tidak serta merta akan diikuti oleh BCA. Sama halnya, kata dia, ketika BI menaikkan BI Rate, BCA juga tak serta merta menaikkan suku bunganya.

“Jadi, dengan suku bunga turun, nggak berarti, kita akan menurunkan semuanya. Tetapi tentu ada nasabah-nasabah kita yang memang perjanjiannya adalah sesuai dengan market rate. Nah, ini akan mengikuti penurunan dari benchmark, apakah itu JIBOR atau INDONIA,” ujar Hendra menjawab pertanyaan media, Rabu (30/7).

Berbicara dalam konferensi pers kinerja keuangan BCA, Hendra mengatakan setelah BI menurunkan BI Rate, BCA memang sudah menurunkan suku bunga deposito.

“Dua minggu lalu kita ada melakukan sedikit adjustment, kalau nggak salah turun 25 basis poin deposito kita. Tapi di tenor jangka panjang, kita ada naikkan sedikit juga. Jadi, untuk nasabah-nasabah kita, ada insentif juga untuk menaruh uangnya dalam jangka waktu yang lebih panjang, dimana rate-nya juga masih cukup menarik,” ujarnya.

Baca Juga :   Tumbuh 8%, BCA Raup Laba Bersih Rp29 Triliun pada Semester I-2025

Hendra mengatakan pada paruh kedua tahun ini, BCA tidak melakukan revisi Rencana Bisins Bank (RBB). Target pertumbuhan kredit tetap di kisaran 6% hingga 8%, sesuai target semula.

Semester kedua,  kata Hendra, kondisi perekonomian memang menantang, terutama dipicu oleh kondisi global, seperti tarif perdagangan yang ditetapkan oleh Amerika Serikat. Beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia sudah menyepakati tarif impor produk Indonesia ke Amerika Serikat dikenakan tarif 19%. Sebaliknya, tarif impor produk Amerika Serikat ke Indonesia dikenakan tarif 0%.

“Kita juga semua lagi menunggu bagaimana mengenai tarif Amerika Serikat dengan negara-negara lain, maupun spesifik dengan Indonesia. Kita tentunya mempelajari impact dari isu-isu global ini ke nasabah kita,” ujar Hendra. 

“Belakangan ini,” tambahnya, “saya sering ketemu dengan banyak nasabah BCA yang juga melakukan impor dan ekspor.”

“Kita akan mengamati perkembangan ini dengan saksama dan kita akan lihat apa yang bisa kita bantu untuk membantu nasabah-nasabah kita terus mengembangkan bisnisnya di dalam era global dengan AS yang mengenakan tarif,” ujar Hendra.

Baca Juga :   Jahja Setiaatmadja Beli Saham BCA, Dalam 2 Hari Raup Untung Rp 91 Juta

Terpisah, menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers kinerja perusahaan, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Hery Gunardi mengatakan penurunan BI Rate menjadi 5,25% adalah sinyal positif bagi perekonomian nasional dan juga memberikan angin segar bagi sektor perbankan termasuk BRI. 

“Kami mengapresiasi langkah Bank Indonesia ini akan berdampak langsung terhadap penurunan cost of fund perbankan. Tentunya perbankan termasuk BRI akan meng-adjust juga pricing dananya termasuk itu deposito, yang memang pricing-nya cukup tinggi, sehingga memberikan ruang yang lebih luas bagi kami dalam melakukan ekspansi pembiayaan secara selektif dan terukur,” ujar Hery.

Hery mengatakan, dari sisi pendanaan, tren penurunan suku bunga acuan diproyeksikan akan memperkuat likuiditas dan efisiensi struktur biaya dana. Hal ini, kata dia,  sejalan dengan strategi BRI dalam mengoptimalkan pendanaan berbasis dana murah atau CASA. 

“Jadi, kita terus mendorong persentase CASA kita terus meningkat melalui transaction banking dan membangun ekosistem yang ada di masyarakat dan juga nasabah kita,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi penyaluran kredit, penurunan BI Rate, tambah Hery, membuka peluang akselerasi pertumbuhan kredit. 

Baca Juga :   BCA Kembali Gelar IKF XI 2022, Cek Siapa Saja Narasumbernya?

“Dengan cost of fund yang menurun, tentunya juga akan ada penyesuaian dari sisi lending rate dalam waktu yang sudah ditentukan terutama sektor-sektor produktif seperti UMKM. BRI akan terus memperkuat pada segmen ini, karena UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional dan memiliki ketahanan yang baik terhadap dinamika ekonomi. Namun demikian, BRI akan tetap menjalankan prinsip kehati-hatian atau prudential banking dalam penyaluran kredit agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan,” ujar Hery.

Vice President Director PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Honggo Widjojo Kangmasto mengatakan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia, Danamon akan menurunkan suku bunga pinjaman.

“Apabila suku bunga BI turun, tentu kami menurunkan, mengikuti arahan dari Bank Indonesia. Walaupun demikian, tetapi tidak serta merta. Semua kenaikan atau penurunan suku bunga, selalu ada time lag, kira-kira tiga bulanlah. Biasanya dalam tiga bulan itu, kita akan melakukan penyesuaian,” kata Honggo, Rabu (30/7).

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics