BRIN Kembangkan Inovasi Berbasis Pengembangan Mineral Kritis dan Strategis
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya mengoptimalkan 22 jenis material mineral strategis, dan 47 mineral kritis untuk menjadi keunggulan bagi pembangunan nasional. Hal tersebut dilakukan melalui inovasi berbasis pengembangan, dan teknologi mineral strategis, serta kritis yang ada di Indonesia.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Nunung Nuryanto mengatakan, pihaknya menggandeng berbagai pemangkun kepentingan untuk mewujudkan komitmen bersama-sama. Misalnya, dalam mengembangkan teknologi pengelolaan unsur tanah jarang (UTJ) dilakukan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Pengawas Tenaga Nuklir, serta Dewan Energi Nasional.
Dalam bidang itu, BRIN mengembangkan riset pengolahan mineral monasit, tailing bauksit, abu batu bara, hingga material berbasis ion adsorption clay.
“Mulai dari skala laboratorium, uji coba, dan tentunya kegiatan ini tidak hanya dilakukan BRIN, tetapi bersama-sama dengan kementerian/lembaga yang lain,” kata Nuryanto dalam acara Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia di Jakarta, Kamis (5/11).
Selain dari sisi inovasi, lanjut Nuryanto, pengembangan teknologi membutuhkan investasi yang besar, dan kerja sama antar-sektor. Juga membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten dan regulator.
Itu sebabnya, kata Nuryanto, membutuhkan sinergi dengan pemerintah, lembaga riset perguruan tinggi, industri, lembaga keuangan, dan masyarakat.
“Forum ini menjadi forum yang sangat strategis karena menghadirkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan. Berbagai pihak yang peduli, berbagai pihak yang tentunya akan mengawal proses pemanfaatan mineral strategis, dan mineral kritis yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Di samping itu, kata Nuryanto, BRIN memandang dukungan terhadap tata kelola mineral kritis harus diperkuat melalui riset lintas disiplin. Dan tidak hanya mengembangkan teknologi pengolahan, tetapi juga yang membawa dampak positif terhadap lingkungan, dan sosial.
Kemudian, kata Nuryanto, pihaknya pun berupaya mengeluarkan riset-riset yang bisa mendukung penilaian risiko, pengembangan instrumen pembiayaan, dan perumusan skema pembagian manfaat yang sesuai dengan konteks daerah, serta memiliki prinsip keadilan.
“Hasil yang diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, karena kalau wacana saja sudah banyak. Tapi bagaimana kemudian secara konkret bisa mengimplementasikan hasilnya,” kata Nuryanto.