Ekonom Perkirakan Bank Indonesia Masih Tahan BI Rate pada RDG April
Gedung Bank Indonesia/Anadolu Agency
Bank Indonesia diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April ini, yang digelar mulai hari ini hingga Kamis (22/4).
“Kemungkinan (Bank Indonensia) masih akan menahan (BI Rate) karena tekanan eksternal terutama kenaikan harga minyak dan inflasi diproyeksikan masih relatif meningkat,” kata Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual kepada Theiconomics.com, Rabu (21/4).
Harga minyak global mengalami kenaikan selama sebulan terakhir, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada akhir Februari, Amerika Serikat dan Israel memulai serangan ke Iran. Sebagai balasan, Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara, terutama di Asia.
Mengutip Investing, harga Crude Oil WTI Futures, kontrak berjangka untuk membeli atau menjual minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI), sempat mencapai US$112 per barel pada 6-7 April, jauh di atas asumsi dalam APBN Indonesia yang menetapkan harga minyak mentah sebesar US$70 per barel.
Namun, harga Crude Oil WTI Futures kembali dalam tren menurun belakangan ini, seiring adanya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Pada 21 April, harga ditutup pada level US$86,44 per barel.
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, mengatakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate seiring dengan nilai tukar rupiah yang kembali menguat.
“Kita melihat BI masih akan mempertahankan BI Rate tetap di 4,75% mengingat nilai tukar rupiah pun sudah perlahan kembali menguat dan relatif sejalan dengan pergerakan Asia peers dan major lainnya terhadap USD,” ujarnya,” ujarnya.
Pada RDG Maret lalu, Bank Indonesia telah memberikan sinyal kuat untuk tetap mempertahankan BI Rate. Dalam RDG Bank Indonesia pada 16-17 Maret 2026, BI memutuskan mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.
Suku bunga acuan tersebut telah berada di level yang sama sejak Oktober 2025, setelah sebelumnya diturunkan masing-masing sebesar 25 basis poin.
Pada RDG Februari 2026 dan bulan-bulan sebelumnya, BI masih menyatakan akan “tetap mencermati ruang penurunan suku bunga BI Rate lebih lanjut.” Namun, pernyataan tersebut tidak lagi muncul dalam hasil RDG Maret.
“Dampak perang di Timur Tengah menjadi alasan mengapa dalam pernyataan kali ini kami tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga. Kemungkinan penurunan suku bunga kami hilangkan dari pernyataan resmi karena kami cenderung mempertahankan BI Rate untuk memperkuat intervensi, menjaga kecukupan cadangan devisa, serta menyesuaikan kebijakan ke depan sesuai dinamika yang berkembang, khususnya terkait optimalisasi kebijakan suku bunga, intervensi, dan cadangan devisa,” kata Perry menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers.