IAS Bukukan Pendapatan Usaha Rp 3,74 T di Semester II/2025

0
261
Reporter: Rommy Yudhistira

PT Integrasi Aviasi Solusi (IAS) membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 3,74 triliun pada Semester I/2025. Jumlahnya meningkat sebesar 7% dari akhir 2024, dan mencapai 89% dari target rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) Rp 4,19 triliun.

Direktur Utama Integrasi Aviasi Solusi Wendo Asrul Rose mengatakan, kontribusi pendapatan IAS disumbang dari 3 besar ini meliputi bisnis operation support sekitar 40%, dan sisanya dari bisnis ground handling, dan kargo. Operasional bisnis IAS hampir 90% berada di area bandara, sehingga produksi IAS Group berasal dari pergerakan penerbangan pesawat, penumpang, dan kargo.

“Jadi 90% bisnis yang dilaksanakan IAS itu adalah bisnis yang berkorelasi langsung, dan berkontrak dengan Angkasa Pura, dan Garuda Group,” kata Wendo di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (22/9).

Dari sisi laba, kata Wendo, IAS mencatat laba kotor sebesar Rp 844 miliar, atau naik 3% dari akhir 2024. Sedangkan untuk target dalam RKAP, laba kotor baru mencapai 71% dari rencana 1,19 triliun hingga akhir 2025.

Baca Juga :   Dua Hari Lebaran, Angkasa Pura I Layani 310.000 Penumpang

Untuk laba bersih, kata Wendo, IAS mencatat laba bersih sebesar Rp 140 miliar, atau turun 44% dari akhir 2024. Laba bersih itu, telah menyentuh 50% dari RKAP yakni sebesar Rp 277 miliar.

Beberapa hal yang mempengaruhi laba bersih, kata Wendo, belum tercapainya target pendapatan, namun pertumbuhan beban overhead yang cukup tinggi sepanjang Semester I/2025, berakibat pada kontraksi laba per Juni 2025. Kenaikan beban overhead, dipengaruhi dari beban terkait pegawai akibat penyesuaian standar remunerasi, dan pemberian kompensasi pegawai. Serta, kenaikan beban produksi akibat kenaikan harga solar industri dari Rp 19 ribu (2024), menjadi Rp 22 ribu (2025) per liter.

“Kalau kita lihat di akhir 2024 itu sebenarnya laba IAS ini hanya Rp 270 miliar. Terlihat besar di Semester I/2024 itu karena beban-beban merger, beban SDM itu semua dialihkan ke Semester II/2024. Dengan demikian, laba yang ada di 2024, semester I tambahannya hanya Rp 20 miliar, di semester II hanya Rp 270 miliar,” ujar Wendo.

Baca Juga :   Hasil KAP, Laporan Keuangan PT Kimia Farma Tbk untuk 2023 Wajar dengan Pengecualian

Masih soal kinerja, kata Wendo, IAS membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp 339 miliar, atau turun 20% dari akhir 2025. Jika dilihat dari target RKAP, Wendo mengatakan, pihaknya baru mencapai 66% dari target sebesar Rp 514 miliar.

“Mudah-mudahan dengan kinerja teman-teman kita bisa melampaui 2024 secara audited,” kata Wendo.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics