Industri 4.0 Disebut Terkait Erat dengan Investasi, Teknologi dan SDM
Tangkapan layar YouTube, Dirjen Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Eko S.A Cahyanto/Iconomics
Posisi Indonesia dalam menghadapi revolusi industri 4.0 disebut sudah siap. Bahkan beberapa industri dinilai sudah sepenuhnya menerapkan revolusi industri 4.0 sehingga diharapkan bisa menginspirasi yang lainnya untuk segera memasuki 4.0.
“Industri yang sudah sepenuhnya menerapkan 4.0, bahkan sudah diakui oleh dunia, sudah disertifikasi Forum Ekonomi Dunia (WEF). Itu kita jadikan champion. Kemudian kami juga mencari industri-industri yang sudah kita bisa jadikan national champion,” tutur Dirjen Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Eko S.A Cahyanto, Senin (5/4).
Eko mengatakan, pihaknya bersama konsultan, pelaku usaha, asosiasi dan lain sebagainya sejak 2017 formula bagaimana memanfaatkan revolusi industri 4.0. Dan itu sudah ada sudah sejak 2011 dan 2012 di mana banyak orang mengira teknologi tersebut akan mengurangi tenaga kerja karena digantikan oleh mesin.
Padahal, kata Eko, tidaklah demikian. Dengan menerapkan dan memanfaatkan teknologi 4.0 itu, justru dibutuhkan tenaga kerja lebih banyak lagi. Soalnya adalah bagaimana mentransformasi sumber daya manusia (SDM) untuk mengerti industri 4.0, termasuk memberikan kompetensi baru terhadap mereka.
Itu sebabnya, Kementerian Perindustrian, kata Eko, fokus mengembangkan industri ini apalagi pasti terkait dengan investasi, teknologi dan SDM. Ini yang disentuh. Khusus untuk SDM Kementerian Perindustrian mengadakan penyadaran mulai dari sosialisasi hingga melaksanakan pelatihan.
“Kami mengadakan pelatihan itu tidak hanya kepada calon tenaga kerja, juga kepada pelaku usaha. Semua harus mendapatkan pemahaman yang sama tentang industri 4.0. Dari sana, kita dapat mengimplementasikannya dengan baik,” kata Eko.