Kementerian BUMN Dukung Pindad Bangun Ekosistem Industri Pertahanan Berkelanjutan

0
40
Reporter: Rommy Yudhistira

Kementerian BUMN mendorong PT Pindad menjadi salah satu aset strategis untuk memperkuat sistem pertahanan Indonesia. Apalagi Pindad dinilai memainkan peran penting dalam pengembangan rantai pasok industri pertahanan, yang berdampak positif terhadap pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, kolaborasi antar-BUMN pun menjadi salah satu faktor yang menguatkan rantai pasokan baja untuk keperluan pertahanan. Dan, industri pertahanan bukan sekadar kebutuhan strategis, melainkan juga pilar penting pembangunan ekonomi.

“Negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS), Prancis, dan Tiongkok menempatkan industri pertahanan sebagai kontributor utama ekonomi mereka. Indonesia perlu bergerak ke arah yang sama,” kata Tiko ketika mengunjungi fasilitas Pindad di Bandung, Jawa Barat, Rabu (6/8).

Kementerian BUMN, kata Tiko, berkomitmen mendorong sinergi BUMN, lembaga riset, dan sektor swasta dalam hal pengembangan industri pertahanan. Karena itu, sebagai bagian dari ekosistem Defend ID, Pindad terus dikembangkan sebagai agen transformasi teknologi pertahanan Indonesia.

“Kalau kita bicara teknologi tinggi, reverse engineering, dan kemampuan transfer of technology (ToT), Pindad adalah contoh nyata bahwa Indonesia mampu membangun teknologi pertahanan unggulan secara mandiri,” tambah Tiko.

Baca Juga :   Allianz Indonesia Tunjuk Direktur Baru untuk Perkuat Arah Strategis dan Transformasi Bisnis Berkelanjutan

Sementara itu, Direktur Utama Pindad Sigit Priyono menambahkan, pihaknya sedang mengembangkan kendaraan sipil berbasis desain Maung. Pengembangan kendaraan itu, merupakan tindak lanjut penugasan yang diberikan Presiden Prabowo Subianto, dan Kementerian BUMN.

“Produk Pindad tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Senjata seperti SM2-V2 diminati Arab Saudi, Malaysia, Thailand, dan Brunei. Senapan SS3-M1 sedang dipersiapkan sebagai senjata organik TNI, sementara SM3-A1 telah dipesan sebanyak 8.000 unit oleh TNI,” ujar Sigit.

Selain memproduksi barang, kata Sigit, Pindad bermitra dengan perguruan tinggi seperti ITB, ITS, UI, dan UPI. Berkat kerja sama itu, Pindad berhasil membangun rantai pasok yang tersebar di berbagai daerah seperti, Medan, Solo, Semarang, Ungaran, Kendal, Cikarang, dan Tangerang.

“Kami tidak hanya membangun produk, tapi juga membangun ekosistem industri pertahanan yang berkelanjutan,” tutur Sigit.

Leave a reply

Iconomics