Purbaya Yudhi Sadewa Curhat Ditegur Pansel Ketua dan Anggota LPS, Apa Sebabnya?

0
384

Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang kini juga sedang mengikuti seleksi menjadi Dewan Komisioner LPS periode 2025-2030 mengaku ditegur oleh Panitia Seleksi (Pansel) karena kerap berbeda pandangan soal perekonomian Indonesia.

“Kemarin saya di Pansel ditegur. ‘Kamu’, katanya, ‘kalau ngomong sembarangan. Gayanya koboi, ke sana ke sini kalau ngomong ekonomi, beda ama yang lain’” cerita Purbaya saat menjadi pembicara kunci pada hari kedua acara “LPS Financial Festival 2025” di Surabaya, Kamis, 7 Agustus.

Dalam acara itu, hadir sejumlah tokoh, seperti pemilik CT Corp, Chairul Tanjung; Walikota Surabaya, Ery Cahyadi; Direktur Operasional PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Timothy Utama; Presiden Direktur HM Sampoerna, Ivan Cahyadi; dan Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional pada 2009-2014.

Merespons teguran Pansel itu, Purbaya mengatakan akan menyesuaikan pandangannya.

“Saya bilang, ‘ya udah, kalau begitu pak, ibu, nanti saya adjust supaya sama’” ujarnya.

“Tetapi, namanya ekonomi, ya suka-suka. Ekonom suka-suka,” tambahnya lagi.

Purbaya mengakui pandangannya soal ekonomi Indonesia memang “agak beda” dengan pandangan sebagian ekonom global.

“Termasuk ekonom-ekonom domestik yang enggak ngerti. Mungkin bacanya terjemahan, terus menterjemahkan ekonomi global seperti apa, kita seperti apa, akibatnya semuanya takut ekonomi kita akan runtuh,” ujar Purbaya.

Baca Juga :   Menkeu Purbaya Masih Timbang-timbang Menurunkan Tarif PPN

Dalam paparannya, Purbaya menyampaikan optimismenya akan pertumbuhan ekonomi domestik.

Ia mengatakan, ekonomi Amerika Serikat yang selama ini diproyeksikan kontraksi, nyatanya pada triwulan II 2025 tumbuh 3%. Pertumbuhan tersebut, kata dia, sudah optimal.

“Jadi, beda yang digambarkan orang. Ternyata negara yang dianggap sumber ketidakpastian dunia tumbuhnya masih oke, walaupun Presidennya agak aneh, tetapi masih oke pertumbuhannya. Harusnya itu akan berdampak positif juga ke kita (ekonomi Indonesia),” ujarnya.

Purbaya mengatakan, sebelumnya, ia juga pernah mengkritik International Monetary Fund (IMF) saat menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5% menjadi 4,7%.

“Di acara CNBC (CNCB Indonesia), saya bilang, ‘jangan percaya begitu saja ke IMF. Saya nggak boleh bilang bodoh rupanya. Dia nggak pintar-pintar amat. Dia nggak lebih pintar dari saya juga,” ujarnya.

Akibat pernyataan itu, Purbaya mengaku ditegur. Namun ia tak menyampaikan pihak yang menegurnya itu.

“Saya ditegur, ‘kenapa Anda bilang begitu’,” ujarnya.

Menurut Purbaya, kritiknya ke IMF belakangan terbukti benar, karena pada Juli lalu, IMF merevisi ke atas pertumbuhan ekonomi global menjadi 3% dari 2,8% pada April.

Baca Juga :   Perbankan akan Terapkan Laporan Terintegrasi Mulai Juli 2021

(Ekonomi) Indonesia tadinya diprediksi tumbuh 4,7%, sekarang 4,8%. Saya yakin bulan depan naik lagi, mungkin ke 5% lagi,” ujar Purbaya.

Poinnya, kata Purbaya, proyeksi pertumbuhan dari ahli-ahli ekonomi dunia memang tetap diperhatikan. 

“Tetapi jangan takut-takut amat. Selama kita tahu, apa yang kita kerjakan. Kalau saya lihat sih, ekonomi kita, walaupun ekonomi global gonjang-ganjing, ketidakpastian dunia selalu ada, tetapi kita enggak usah terlalu khawatir,” ujarnya.

Purbaya yang pernah menjadi anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) pada 2010-2014 bersama Chairul Tanjung mengungkapkan, saat itu setiap tahun KEN dalam laporannya selalu mengungkapkan ketidakpastian global. 

Judul laporan ekonomi Indonesia yang dibuat KEN saat itu, kata dia, selalu menyematkan kata ketidakpastian seperti  “tumbuh di tengah ketidakpastian dunia”, “bertahan di tengah ketidakpastian dunia” dan “tetap tumbuh walaupun  dunianya jatuh”.

“Lama-lama saya pikir, 25 tahun terakhir membahas ekonomi itu, setiap tahun pasti ada ketidakpastian. Jadi, Anda nggak usah takut tentang ketidakpastian global, itu selalu ada. Tetapi tergantung pintar-pintarnya kita menentukan arah ekonomi kita sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :   Menkeu Purbaya Siapkan “Sidang Gangguan Usaha” untuk Debottlenecking 

Menurut Purbaya, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang selalu terjadi itu, kunci bagi Indonesia adalah mengelola ekonomi domestik dengan baik.

Alasannya, jelas dia, dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, hampir 90% ditopang oleh permintaan domestik, yaitu konsumsi rumah tangga dan investasi.  

“Jadi, kalau global hancur pun selama kita tenang, selama kita tahu bagaimana me-manage ekonomi domestik, kita masih bisa akan tumbuh. Nggak usah takut. Pasti Anda bilang, ‘Purbaya ini lagi kampanye mau dipilih lagi menjadi ketua LPS ya?’ Nggak. Itu pernah kita alami, di tahun 2009” ujarnya.

Tahun 2009, jelasnya, saat ekonomi global lesu, sebagian besar negara-negara dunia pertumbuhan ekonominya kontraksi.

“Amerika, Eropa, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand, semua tumbuh negatif. Kita tumbuh 4,6%, dengan cara me-manage domestic demand, bunga diturunkan, ekspansi fiskal,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics