Kinerja Cemerlang BSI Triwulan III 2025: Laba Naik 9%, Bisnis Emas Jadi Mesin Utama
(kiri-kanan). Penyampaian kinerja Triwulan III BSI disampaikan oleh Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo (tengah), Direktur Risk Management Grandhis H.Harumansyah (paling kiri), Wakil Direktur Utama Bob T.Ananta (dua dari kiri), Direktur Finance & Strategy Ade Cahyo Nugroho (empat dari kiri), Direktur Sales & Distribution Anton Sukarna (paling kanan) di Kantor Pusat BSI (29/10).
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membukukan kinerja kuat pada Triwulan III 2025. Hampir seluruh indikator keuangan BSI tumbuh dobel digit dan di atas rata-rata industri, dengan tetap menjaga kualitas yang sehat. Pertumbuhan ini didorong terutama oleh bisnis emas dan haji sebagai mesin utama perusahaan.
Laba bersih BSI mencapai Rp5,57 triliun, naik 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,11 triliun.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan bahwa kinerja solid tersebut tak lepas dari dukungan kuat Pemerintah RI melalui kebijakan ekonomi dan program stimulus, termasuk pendirian Bank Emas pada 26 Februari 2025, penurunan BI Rate, serta penempatan Dana Sisa Anggaran Lebih (SAL).
BSI memperoleh penempatan dana SAL sebesar Rp10 triliun yang telah terserap sepenuhnya. Dukungan ini mendorong Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 15,66% (YoY) menjadi Rp348,38 triliun, dengan 59,42% di antaranya merupakan dana murah (CASA).
Pertumbuhan dana mendorong total aset BSI naik 12,37% menjadi Rp416 triliun. Sepanjang 2025, BSI fokus meningkatkan dana murah, khususnya tabungan haji dan tabungan bisnis yang masing-masing tumbuh 19% dan 55%.
Dari sisi pembiayaan, BSI mencatat Rp300,85 triliun, tumbuh 12,65% (YoY). Segmen Ritel, UMKM, dan Konsumer menjadi kontributor utama dengan total Rp217,86 triliun atau 72,42%, disusul segmen Wholesale Rp82,89 triliun (27,58%).
Bisnis emas menjadi unggulan utama. Sejak peluncuran layanan bulion oleh pemerintah, pembiayaan emas tumbuh 72,82% (YoY) menjadi Rp18,76 triliun, terdiri atas Cicil Emas: Rp10,32 triliun (tumbuh 106,36%) dan Gadai Emas: Rp8,44 triliun (tumbuh 44,19%).
Selain itu, Tabungan E-mas juga meningkat pesat dengan saldo kelolaan 1,15 ton, penjualan 1,69 ton, dan 200 ribu rekening emas (CIF).
Pertumbuhan bisnis emas turut mendorong pembiayaan konsumer naik 15,02% menjadi Rp167,62 triliun. Adapun pembiayaan wholesale didominasi oleh sektor telekomunikasi, agrobisnis, dan transportasi.
Kualitas pembiayaan tetap terjaga, tercermin dari NPF Gross 1,86%, membaik dibanding periode sebelumnya dan di bawah rata-rata industri.
Direktur Finance and Strategy Ade Cahyo Nugroho menegaskan bahwa BSI terus memperkuat infrastruktur IT dan digitalisasi untuk mendukung ekspansi bisnis dan profitabilitas.
“Tak hanya inovasi, kami juga akan memaksimalkan infrastruktur IT dan digital untuk memperluas coverage dan meningkatkan profitabilitas,” ujarnya.
Jumlah nasabah BSI kini mencapai 22,6 juta, sementara pengguna aplikasi BYOND by BSI tumbuh pesat menjadi 5,23 juta user (naik 164% YtD).
Untuk segmen UMKM, BSI meluncurkan portal Salam Digital guna memudahkan pengajuan pembiayaan mikro secara daring. Hasilnya, pembiayaan UMKM mencapai Rp50,25 triliun, dengan porsi Pembiayaan Inklusif Makroprudensial sebesar 34,24% pada September 2025.
BSI sebagai leader bank syariah nasional berkomitmen terus berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan pengembangan ekonomi syariah yang inklusif, sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah.
Beberapa kontribusi konkret BSI antara lain hilirisasi dan monetisasi emas melalui layanan bulion (1,7 ton) dan pembiayaan KUR Syariah dengan outstanding Rp25 triliun untuk 308.310 nasabah. Kemudian, KPR FLPP yang menjangkau 22 ribu unit rumah bersubsidi dengan dan outstanding Rp3,3 triliun. Selanjutnya, ada Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Aceh, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan ekonomi hijau dan Penyaluran zakat perusahaan sebesar Rp849 miliar sejak merger.
Melalui BSI Maslahat, zakat dan dana sosial disalurkan untuk pemberdayaan umat, dengan total penerima manfaat pada bidang sosial sebanyak 226 ribu orang, bidang dakwah sebanyak 34 ribu orang, pendidikan sebanyak 13 ribu orang serta kesehatan dan ekonomi yang menjangkau ribuan penerima manfaat.