Kinerja Garuda Tertekan Akibat Kekurangan Armada, Manajemen Fokus Pemulihan Kapasitas
Ilustrasi Armada Garuda Indonesia/Foto: Dok.Garuda
Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, memaparkan perkembangan kinerja operasional perseroan sepanjang kuartal III 2025. Ia menegaskan bahwa tekanan utama terhadap performa Garuda tahun ini berasal dari berkurangnya jumlah pesawat yang dapat beroperasi akibat program maintenance yang masih berlangsung.
Menurut Thomas, indikator available seat kilometers (ASK) pada kuartal III 2025 turun 1,92% sejalan dengan keterbatasan alat produksi. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan angkutan penumpang sebesar 13,36% year-on-year, serta pelemahan angkutan kargo 7,21% year-on-year.
Meski kapasitas menyusut, permintaan pasar dinilai tetap solid. Hal ini tercermin dari seat load factor yang naik 0,71%, mencerminkan kualitas permintaan yang kuat serta manajemen rute yang lebih disiplin. Dari sisi komersial, passenger yield turun 10,7% year-on-year, sementara cargo yield tumbuh 9,9%.
“Ini sejalan dengan strategi harga yang lebih kompetitif selama fase maintenance untuk menjaga momentum demand,” ujar Thomas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Senin (1/12).
Secara total, pendapatan Garuda Group pada kuartal III tercatat turun 10,5% year-on-year, dipengaruhi pendapatan penumpang yang merosot 11,4% dan pendapatan kargo yang turun 3,8%. Namun, pendapatan charter melonjak 96,3%, sementara pendapatan lainnya naik stabil 1,5%.
Direktur Teknik Garuda Indonesia Group, Mukhtaris, menambahkan bahwa per November 2025, Garuda Indonesia mengoperasikan 58 pesawat, sementara Citilink mengoperasikan 32 pesawat, sehingga total 90 pesawat dalam kondisi serviceable. Angka ini meningkat signifikan dari Juli 2025 ketika Citilink hanya mengoperasikan 21 pesawat.
“Kami menyadari bahwa armada yang sehat adalah fondasi dari layanan yang dapat diandalkan. Kedepan, fokus kami sangat jelas meningkatkan readiness atau kesiapan daripada armada, memperkuat produktivitas, serta memulihkan kapasitas produksi secara bertahap dan terukur,” ujar Mukhtaris.
“Kami bergerak dengan penuh kehati-hatian, tetap merespon kebutuhan pasar tentunya, namun memastikan setiap langkah sejalan dengan kemampuan finansial dan strategi transformasi jangka panjang,” tambahnya.
Dalam laporan keuangan sembilan bulan pertama 2025, pendapatan Garuda Group turun 6,70% year-on-year, dari US$2,56 miliar menjadi US$2,39 miliar.
Segmen penerbangan berjadwal turun paling dalam, melemah 8,53% menjadi US$1,84 miliar. Sebaliknya, pendapatan penerbangan tidak berjadwal tumbuh 2,89% menjadi US$299,56 juta, mencerminkan tetap kuatnya permintaan untuk layanan charter. Pendapatan lainnya terkoreksi lebih moderat, turun 3,18% menjadi US$245,86 juta.
Garuda membukukan rugi bersih US$182,53 juta meningkat sekitar 39% year-on-year dibanding rugi US$131,22 pada periode yang sama tahun lalu.