Melalui IHS, Kementerian Kesehatan Replikasi Interkoneksi Sitem di Perbankan ke Sektor Kesehatan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus membenahi sistem informasi kesehatan di Indonesia dengan mengembangkan platform bernama Indonesia Health Services (IHS). Dengan platform IHS ini, sistem informasi kesehatan dari satu fasilitas kesehatan dengan fasilitas kesehatan lainnya dapat saling terkoneksi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan data-data kesehatan individu di Indonesia tidak secara digital dimiliki oleh masyarakat, tetapi kebanyakan adanya di fasilitas kesehatan. Akibatnya, perpindahan data dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas kesehatan lainnya menjadi sulit.
“Contohnya kita sudah dites darah di rumah sakit kelas D, kemudian kita mesti dirujuk ke rumah sakit kelas B, terpaksa kita dites darah lagi, sehingga bebannya dan kenyamananya akan menjadi kurang buat masyarakatnya. Hal yang sama juga terjadi kalau misalnya sudah pernah diperiksa oleh dokter di sebuah kota di Sumatera, kemudian mau dirujuk ke dokter di Surabaya. Kembali lagi, dokter di Surabaya harus mengulang sebagian prosedur yang dilakukan oleh dokter di kota Sumatera, karena memang data digital dari pasien itu banyaknya dimiliki dan tinggal di fasilitas kesehatan. Padahal, data itu sebenarnya sesuai dengan undang-undang adalah milik dari si pasien tersebut,” beber Budi dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI, Senin (30/5).
Budi mengatakan fasilitas-fasilitas kesehatan di Indonesia juga memiliki aplikasi masing-masing, tetapi belum terkoneksi satu sama lain. “Contohnya kita datang ke lab yang paling terkenal namanya Prodia. Kita sudah ambil darah kemudian kita pingin diperiksa general chek up di Rumah Sakit Pondok Indah atau MMC. Akan sulit sekali untuk MMC dan Prodia untuk mentransfer data pasien yang bersangkutan, kecuali pasien yang bersangkutan benar-benar bisa membawah kertasnya untuk berpindah-pindah fasilitas kesehatan,” ujar Budi.
Karena itu, Budi mengatakan Kementerian Kesehatan sedang mengembangan suatu platform dimana semua aplikasi yang dimiliki fasilitas kesehatan itu bisa berinterkasi.
“Kalau saya ambil sebagai contoh misalnya perbankan. Sekarang kita bisa punya rekening di BCA dan transfer ke rekening anak kita di bank Mandiri. BCA dan Mandiri punya aplikasi sendiri-sendiri, tetapi aplikasinya itu bisa berbicara satu sama lain,” ujarnya.
“Itu initnya yang dilakukan. Membentuk suatu platform dimana masing-masing aplikasi yang sudah ada di rumah sakit, masing-masing aplikasi yang sudah ada di apotek bisa saling berbicara, termasuk juga aplikasi-aplikasi yang ada di pemerintah,” tambah Budi.
Indonesia Health Services (IHS) ini merupakan suatu platform atau ekosistem yang bisa menghubugkan semua aplikasi di seluruh industri kesehatan baik itu di rumah sakit, puskesmas, klinik, apotek, dinas kesehatan, dan perusahaan-perusahaan lainnya. Karena itu, seperti di perbankam, IHS ini akan menentukan spesifikasi dan standar agar bisa berbicara satu satu sama lain. “Kita membutukan spesifikasi dari format data dan juga standar komunikasnya yang aman, dan juga baik,” ujar Budi.
Spesifikasi dan standar ini, jelas Budi, menggunakan spesifikasi dan standar internasional yang dipakai oleh WHO dan juga beberapa negara besar. Sehingga, suatu saat kalau interkoneksi itu dibuka, bisa langsung terkoneksi dengan sistem yang sama di luar negeri, sama seperti sistem perbankan.
Budi menegaskan, IHS ini adalah suatu platform interkoneksi. Karena itu, aplikasi yang ada di masing-masing fasilitas kesehatan tetap digunakan, sama seperti masing-masing bank juga memiliki aplikasi masing-masing.
“Kami persilakan mereka [fasilitas kesehatan] berbeda-beda karena bagus untuk persaingan. Tetapi yang penting aplikasi-aplikasi itu harus terkoneksi [satu sama lain] sehingga menyamankan bagi masyarakat,” ujarnya.
Selanjutnya, semua sistem yang ada fasilitas kesehatan ini nanti akan diinterkoneksikan melalui IHS ke Citizen Health App (CHA) untuk memudahkan masyarakat dalam berinteraksi dengan fasilitas kesehatan seperti beli obat di apotek, chek darah di lab, dirawat di rumah sakit, atau konsultasi dengan dokter di klinik pribadi. CHA sendiri merupkan pengembangan lebih lanjut dari aplikasi PeuduliLindungi.
Budi mengatakan aplikasi PeduliLundingi yang saat ini sudah diunduh 90 juta kali dan digunakan secara aktif oleh 60 juta pengguna dalam sebulan, akan dikembangkan fungsinya. Tak lagi hanya untuk merekam data vaksin Covid-19 dan tes PCR Covid-19, tetapi aplkasi PeudliLindungi juga akan memuat data-data vaksin lainnya serta data hasil pemeriksaan lab lainnya.
“Kita sudah mulai mensosialisasikan ini ke para stakeholder dan sudah ada 91 institusi yang sudah mau melakukan beta testing dari 9 kategori, seperti rumah sakit, klinik, puskesmas, praktik pribadi, lab yang mau berinterkoneksi dengan sistem ini (IHS) agar mereka bisa melakukan sharing dari data bila dibutuhkan oleh pasien yang bersangkutan,” ujar Budi.