Mitigasi Kenaikan Fed Fund Rate, Bank Indonesia: Jamunya Bukan Suku Bunga

0
274

Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada level 5,75%. Sementara di sisi lain, Federal Reserve – Bank Sentral Amerika Serikat – diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuannya sehingga berpotensi memperkuat Dollar Amerika Serikat. Apalagi di sisi lain, ekonomi China masih lesu dan bank sentral Jepang menerapkan kebijakan moneter yang dovish – mempertahankan suku bunga bahkan menurunkannya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan Federal Reserve diperkirakan akan menaikkan Fed Fund Rate pada September nanti. Bahkan masih ada kemungkinan Fed kembali menaikan suku bunga acuannya sebanyak satu hingga dua kali lagi karena tingkat inflasinya yang masih tinggi.

Meski demikian, Perry menegaskan bahwa potensi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate dan penguatan Dollar Amerika Serikat tak dihadapi Bank Indonesia dengan ikut menaikkan suku bunga acuan BI. Ia memang tak menampik, kondisi global akan berpengaruh pada ekonomi domestik.

“Ini yang menjadi fokus kita. Bagaimana kita memitigasi risiko rambatan global tadi. Bagaimana mencapainya? Jamunya buka suku bunga,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (24/8).

Baca Juga :   Siap-siap Stimulus Fiskal?

Selain intervenasi valas – di spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)- dan 7 instrumen untuk implementasi PP 36/2023 tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE), Bank Indonesia juga merilis instrumen operasi pasar yang baru yaitu melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). SRBI merupakan sekuritisasi atas SBN yang dimiliki oleh Bank Indonesia senilai lebih dari Rp1.000 triliun. Bank Indonesia menerbitkan SRBI yang memiliki tenor 6 bulan, 9 bulan dan 12 bulan. Instrumen dengan underlying SBN ini dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Instrumen operasi pasar SRBI ini diharapkan akan menarik  investasi portofolio termasuk dari investor asing atau non resident sehingga  semakin memperdalam pasar valas dan bisa mendukung stabilisasi nilai tukar Rupiah.  Perry mengatakan dengan intervensi valas baik di pasar spot maupun DNDF yang sudah dilakukan selama ini, nilai tukar Rupiah relatif terkendali di tengah penguatan Dollar Amerika Serikat terhadap mata uang berbagai negara.

“Bahkan year to date masih menguat lebih baik dari yang lain. Itulah cara kita memproteksi ekonomi domestik, inflasi dan pertumbuhan ekonomi dari rambatan global. Semua negara mengalami ini tetapi fokus kita adalah stabilisasi nilai tukar dengan intervensi valas khususnya di spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF),” ujarnya.

Baca Juga :   Bank Indonesia Sempurnakan Pengaturan Transaksi DNDF

Inflasi Rendah, Pertumbuhan Ekonomi Tinggi

Perry mengatakan ekonomi domestik sejauh ini relatif bagus, termasuk terbaik di antara negara emerging market bahkan dunia. Inflasi Indonesia saat ini sebesar 3,08%, lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat.

“Kita perkirakan akhir tahun ini inflasi IHK bisa sekitar 2,9%. Inflasi inti bahkan lebih rendah, akhir tahun ini bisa 2,5%,” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II sebesar 5,17%. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III ini kurang lebih 5,15% hingga 5,11%. Sementara untuk keseluruhan tahun tahun 2023 ini, Bank Indonesia memperkirkan sebesar 4,5% hingga 5,3% dan tahun 2024 sebesar 4,7% hingga 5,5%.

“Jadi, inflasi kita rendah pertumbuhan kita relatif tinggi. Bahkan lebih tinggi dari China untuk tahun ini maupun tahun depan. China kalau tidak salah tahun depan 4,6% atau 4,7%,” ujar Perry.

Perry mengatakan pelemahan ekonomi China memang menurunkan kinerja ekspor Indonesia. Meski demikian, ekspor Indonesia menurut dia masih relatif tinggi.

Saat ekspor mengalami tekanan, Perry mengatakan, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama dari domestik yaitu konsumsi rumah tangga dan investasi non bangunan.

Baca Juga :   Fed Fund Rate Makin Mendekati Suku Bunga Acuan Bank Indonesia

“Permintaan domestik khususnya rumah tangga dan invesatsi non bangunan ini yang menjadi penopang sumber pertumbuhan ekonomi kita yang kami perkirakan 4,5% sampai 5,3% tahun ini dan 4,7%-5,5% pada tahun depan. Inflasi kita rendah, tahun depan juga akan terkendali pada sasaran 2,5% plus minus 1%,” ujarnya.

Leave a reply

Iconomics