Pemerintah Akan Alihkan Anggaran Stimulus EV untuk Bangun Ekosistem Industri Nasional
Pemerintah berencana mengalihkan anggaran stimulus kendaraan listrik (EV) untuk membangun ekosistem industri mobil nasional. Pemerintah telah menganggarkan Rp 13,27 triliun untuk insentif pembelian EV pada 2025.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pengalihan anggaran itu dilakukan setelah ada lonjakan daya beli masyarakat terhadap EV. Karena itu, pemerintah memilih untuk mencabut alokasi stimulus itu, dan digunakan untuk sektor produktif lainnya.
“Anggarannya, tentu kita punya rencana mobil nasional, sehingga kita sebetulnya bisa belajar dari VinFast (produsen mobil listrik asal Vietnam),” kata Airlangga ketika ditemui di kawasan pabrik VinFast, Subang, Jawa Barat, Senin (15/12).
Kendati menghadapi ketidakpastian global, kata Airlangga, berkat pemberian stimulus itu, secara umum industri kendaraan listrik menunjukkan kinerja positif. Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik lebih dari 69 ribu unit pada periode Januari-Februari 2025, atau lebih besar dari tahun sebelumya sekitar 43 ribu unit kendaraan.
“Stimulus itu diberikan supaya mereka bangun pabrik. Sekarang setelah mereka bangun pabrik maka struktur biaya masuknya lebih rendah. Makanya ada mobil (listrik) yang harganya Rp 152 juta (VinFast). Sebelum kebijakan ini, tidak ada mobil yang harganya di bawah Rp 200 juta,” ujar Airlangga.
Sebagai informasi, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berencana membangun industri mobil nasional pada 2027. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan, pembahasan mobil nasional akan dilakukan bersama PT Pindad. Beberapa hal yang menjadi perhatian pemerintah antara lain mengenai jenis kendaraan yang diproduksi, dan teknologi yang digunakan.