Pengamat: Sektor Dunia Usaha dan UMKM Paling Terpukul Covid-19

0
463

Kinerja perekonomian Indonesia di masa pandemi Covid-19 ini dinilai lebih dibandingkan dengan negara lain. Akan tetapi, bukan berarti wabah Covid-19 ini tidak berdampak serius terhadap perekonomian Indonesia. Pertanyaannya siapa yang terdampak?

Ekonom Chatib Basri mengatakan, merujuk kepada data Office of Chief Economist Bank Mandiri, pekerja yang berpendapatan tetap nyaris tidak terdampak wabah Covid-19. Kondisi mereka hanya turun tipis sekitar 99,7% dari kondisi normal.

“Sementara masyarakat yang bergerak di sektor informal, pendapatannya turun menjadi 70% dari kondisi normal. Artinya pendapatan mereka turun 30% karena Covid-19. Pun demikian dengan dunia usaha dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pendapatannya turun 15% dari kondisi normal,” kata Chatib dalam sebuah webinar, Rabu (2/12).

Karena itu, kata mantan Menteri Keuangan ini, wabah Covid-19 membawah dampak terhadap sektor informal dan dunia usaha. Itu sebabnya, fokus kebijakan pemerintah di masa sekarang harus kepada 2 sektor tersebut agar perekonomian tumbuh mendekati angka 0 pada kuartal IV nanti.

“Akan ada perbaikan tapi polanya relatif lambat. Paling efektif memang realisasi bantuan sosial seperti bantuan tunai langsung, Program Keluarga Harapan (PKH) dan lain sebagainya. Ini membuat konsumsi jadi naik sehingga pertumbuhannya bisa pulih,” kata Chatib.

Baca Juga :   Cegah Penyebaran Covid-19, WIKA dan Bio Farma Berikan Bantuan pada Titik Terdekat Kantor Pusat

Lantas sektor apa saja yang terdampak Covid-19? Menurut Chatib, sektor makanan tetap tumbuh, sementara sektor seperti restoran, hotel dan transportasi mengalami penurunan dalam. Yang berubah di dalam pola belanja konsumen merujuk data Office of Chief Economist Bank bahwa yang berbelanja itu adalah kelompok bawah atau miskin.

Porsi terbesar belanja kelompok miskin, kata Chatib, adalah makanan. Namun, belanjanya turun menjadi 84,2%. Sementara kelompok kaya mengurangi konsumsinya terutama yang tidak esensial menjadi hanya 72,4%. Dari situasi ini, kata Chatib, yang perlu dilakukan mendorong kelompok miskin untuk tetap berbelanja lewat bansos.

“Juga mendorong kelompok menengah-atas supaya belanja. Masalahnya menengah-atas ini merasa nyaman kalau belanja membutuhkan mobilitas tinggi. Kayak perjalanan. Belum sepenuhnya mau beli barang mahal lewat online,” kata Chatib.

Leave a reply

Iconomics