Perdokjasi: Pembiayaan Pengobatan dan Terapi Penyakit Langka Jadi Tantangan, Simak Jawabannya!

0
66

Perhimpunan Dokter Pembiayaan Jaminan Sosial dan Perasuransian Indonesia (PERDOKJASI) melihat tantangan pembiayaan penyakit langka akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan seiring berkembangnya terapi moderen dan teknologi pengobatan presisi.

Salah satu contohnya multiple sclerosis (MS), penyakit saraf kronis yang perlahan memengaruhi kemampuan bergerak dan aktivitas sehari-hari. Penyakit ini dialami komedian Pepeng.

Penanganan penyakit ini tidak ringan. Pasalnya membutuhkan biaya pengobatan yang mahal dan kebutuhan pembiayaan jangka panjang.

Dalam webinar PERDOKJASI Episode Mei 2026,  Wakil Ketua PERDOKJASI dr. Emira E. Oepangat, FLMI, CFP, AAAIJ, AAAK mengatakan kemajuan teknologi pengobatan membuat sistem kesehatan harus semakin siap menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasien dan kemampuan pembiayaan layanan kesehatan.

“Pengabdian dokter hari ini bukan hanya mengobati pasien di ruang praktik, tetapi juga memastikan keputusan dalam sistem kesehatan tetap adil, objektif, dan melindungi pasien,” ujarnya dalam keterangan resminya.

Menurut Emira, momentum Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) menjadi pengingat bahwa peran dokter saat ini semakin luas, termasuk dalam memastikan sistem kesehatan tetap mampu memberikan akses pengobatan yang berkeadilan bagi masyarakat.

Baca Juga :   Para Pemegang Polis Diminta Tetap Tenang, WanaArtha Masih Terus Berjuang Kembalikan Aset yang Disita

Dr. dr. Rocksy Fransisca VS, Sp.N(K), Neurologist Siloam Hospitals Lippo Village, menjelaskan multiple sclerosis merupakan penyakit autoimun kronis yang banyak menyerang usia muda produktif dan membutuhkan terapi berkelanjutan untuk mencegah kecacatan.

“Dampaknya bukan hanya gangguan saraf. Penyakit ini bisa memengaruhi kemampuan bekerja, kualitas hidup, kesehatan mental, hingga aktivitas sehari-hari pasien,” kata Rocksy.

Ia mengatakan banyak pasien MS di Indonesia masih terlambat terdiagnosis dan belum mendapatkan terapi optimal karena keterbatasan pemeriksaan dan akses pengobatan.

Menurutnya, terapi yang diberikan lebih dini dapat membantu memperlambat kecacatan dan menjaga kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.

dr. Sigit Adiwijaya, Head of Operation AXA Mandiri, mengatakan perkembangan terapi moderen kini menghadirkan tantangan baru dalam sistem pembiayaan kesehatan karena biaya pengobatan terus meningkat.

“Sekarang bukan hanya soal apakah obat bisa menyembuhkan, tetapi juga apakah sistem kesehatan mampu membiayainya secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan keputusan pembiayaan terapi tidak bisa hanya melihat mahal atau murahnya obat, tetapi juga harus mempertimbangkan manfaat nyata yang diterima pasien, termasuk kualitas hidup dan kemampuan pasien tetap produktif.

Baca Juga :   Indonesia Re International Conference akan Bedah Hilirisasi Sektor Perasuransian

dr. Emira menekankan pentingnya kolaborasi antara dokter, rumah sakit, industri asuransi, regulator, dan penyelenggara jaminan kesehatan agar pasien tetap mendapatkan akses pengobatan tanpa membebani keberlanjutan sistem kesehatan nasional.

“Penyakit kompleks dan penyakit langka membutuhkan keputusan medis yang tidak hanya cepat, tetapi juga objektif, berbasis bukti ilmiah, dan mempertimbangkan keberlangsungan sistem kesehatan dalam jangka panjang,” kata dr. Emira.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics