Produksi Minyak Terus Berkurang, Aspermigas Dorong Pemerintah Beri Subsidi PLTS Atap

0
377

Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) mendorong pemerintah untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber energi di dalam negeri untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Ketergantungan Indonesia pada impor minyak karena produksi dalam negeri yang terus berkurang membuat ketahanan energi Indonesia rentan, terutama bila terjadi kondisi geopolitik yang medongkrak harga minyak sekaligus menghambat importasi minyak.

Ketua Umum Aspermigas Mustiko Saleh mengatakan Indonesia memiliki sumber energi matahari (surya) yang berlimpah, karena letaknya yang berada di garis katulistiwa. 

Indonesia, kata mantan Wakil Direktur PT Pertamina (Persero) ini, jangan menunggu tahun 2050 untuk mengembangkan energi surya.  Studi yang dilakukan University of Exeter and University College London mengungkapkan tahun 2050, energi surya akan menjadi sumber energi dominan di dunia.

Mustiko mendorong agar dalam 10 tahun ke depan, Indonesia mengembangkan secara masif energi surya ini, seperti yang dilakukan China.

“Dimulai dari rumah-rumah. Dikasih subsidi kalau memasang PLTS [di rumah]. Sekarang saja kalau beli mobil listrik dikasih subsidi. Kalau itu rumah-rumah semua dikasih subsidi, why not?” ujar Mustiko dalam acara ‘Indonesia Energy Forum 2024’ yang diselenggarkan Theiconomics.com, di Royal Kuningan Hotel, Jakarta, Selasa (10/9).

Baca Juga :   Bahlil Mau Jual 5.000 Sumur Minyak ke Pihak Asing, Aspermigas; “Eh, yang Punya Sumur Siapa?”

Pengembangkan energi surya ini mempertimbangkan beberapa kondisi, baik aktual maupun skenario terburuk yang bisa terjadi karena faktor geopolitik.

Pertama, ketergantungan Indonesia akan impor minyak saat ini sangat tinggi. Lifting minyak di dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari dan impor mencapai 800 ribu barel per hari. 

Kedua, karena ketergantungan yang tingi pada impor minyak, kondisi geopolitik mempengaruhi ketahanan energi domestik, seperti perang antara Israel dan Hamas. Ia mengatakan, bila terjadi perang antara Israel dan negara-negara Arab, pasokan minyak akan terganggu. Demikian juga bila terjadi perang antara China dan Taiwan yang memicu serangan militer di Laut China Selatan, distribusi minyak ke Indonesia akan terganggu. “Kita mau impor dari mana?” ujarnya retoris.

Mustiko mengatakan, bila energi surya sudah masif digunakan di dalam negeri, Aspermigas mendorong agar minyak digunakan sebagai bahan petrokimia, bukan lagi sebagai sumber energi.

Menurtnya, di tengah tren penurunan produksi minyak, selain melalui eksplorasi, metode meningkatkan produksi minyak melalui Enhanced Oil Recovery (EOR) masih bisa dilakukan, dengan catatan pemerintah memperbaiki porses perizinan.

Baca Juga :   AESI Ungkap PLTS di Indonesia Tumbuh Tak Sesuai Harapan

Potensi minyak pada lapangan-lapangan yang sudah berproduksi masih tinggi, karena secara teknis proses pengeboran yang dilakukan masih menyisahkan minyak pada reservoir.

Mustiko mengatakan, ada tiga mekanisme untuk mengeluarkan minyak dari dalam reservoir. Pertama, reservoir solution gas drive. Recovery factor pada metode ini paling rendah yaitu 21-23%. 

“Jadi, kalau ada reservoir dengan solution gas drive itu, minyak yang tersisah di bawah itu masih 70-80%. Masih banyak,” ujarnya. 

Kedua, gas cap expansion atau gas cap drive. Gas cap expansion ini memberikan recovery factor  27-28%, sehingga masih tersisah minyak 72% pada reservoir.

Ketiga, water drive reservoir, yang memiliki recovery factor paling besar. “[Lapangan migas] di Jambi saya pernah menghitung, ada yang sampai 60%,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics