Semen Indonesia Group: Konsolidasi di Industri Semen Terus Terjadi

0
337

Jumlah pemain di industri semen Tanah Air bakal terus berkurang seiring dengan proses konsolidasi yang dilakukan para pemain. Dari sisi permintaan, permintaan semen diperkirakan akan terus bertambah ke depan, baik dari sisi ritel maupun permintaan dari segmen proyek terutama proyek strategis pemerintah.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) Andrianto Hosny Panangian mengatakan jumlah perusahaan semen di Indonesia terus berkurang, dari 15 pada tahun 2021 menjadi 13 pada saat ini. Perubahan ini terjadi karena konsolidasi yang terjadi di antara para pemain.

Akhir tahun 2022 lalu, misalnya,  PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) bergabung dengan Semen Indonesia Group (SIG) atau SMGR. Sebelumnya, pada tahun 2019, SIG juga telah mengakuisisi 80,6% saham LafarrgeHolcim di PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), sehingga perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi PT Solusi Bangun Indonesia Tbk.

Konsolidasi juga dilakukan pemain lain. PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk (INTP), misalnya, pada tahun 2022 melakukan kerja sama penggunaan aset dengan PT Semen Bosowa Maros dan PT Semen Bosowa Corporindo. Tak hanya itu, pada Oktober 2023 ini, INTP juga melalui anak usahanya PT Dian Abadi Perksa mengakuisisi seluruh saham PT Semen Grobogan.

Baca Juga :   Kerjasama KAI dan SIG Perkuat Distribusi Semen dan Pergudangan

Menurut Andrianto, konsolidasi yang terjadi di industri semen ini membuat landscape kompetisi di pasar semen Tanah Air semakin baik dari sisi pengelolaan pasar (market).

“Jadi, kalau dilihat sampai dengan saat ini itu hanya empat pemain yang menguasai sekitar 95% dari pasar, dimana Semen Indonesia adalah yang terbesar dengan sekitar 50,5% market share, dimana akhir tahun 2023 ini sudah meningkat. Kemudian diikuti dengan Indocement, Conch dan Merah Putih,” ujar Andrianto dalam paparannya pada Public Expose Live, Selasa (28/11).

Andrianto mengatakan meski secara umum terjadi kelebihan pasokan semen di Indonesia, tetapi di sisi lain, permintaan semen juga diperkirakan akan terus bertambah. Saat ini, menurut dia, 70% perminataan semen bersumber dari segmen ritel dan 30% dari segmen proyek.

Dari sisi ritel, menurut dia, masih terdapat sejumlah motor penggerak permintaan semen di masa depan. “Contohnya, kita ketahui di Indoensia, secara [konsumsi] semen per kapita itu masih sangat rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Kemudian dari sisi backlog perumahan nasional itu masih ada sekitar 12,75 juta unit backlog per tahun 2022, yang tentunya ini akan menjadi driver dari pertumbuhan demand, khususnya di segmen ritel,” ujarnya.

Baca Juga :   Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,72%, Tetapi Industri Semen Malah Alami Kontraksi

Demikian juga dari segmen proyek. Tahun ini, menurut dia, penjualan semen curah (bulk) meningkat dobel digit karena didukung oleh proyek-proyek strategis nasional. Beberapa proyek tersebut misalnya proyek jalan tol Trans Sumatera yang terus dikebut pengerjaannya agar bisa selesai di kuartal pertama 2025.

Selain itu, proyek IKN, menurut Andrianto juga menjadi driver terbesar dari penjualan semen curah. “Banyak lagi proyek-proyek strategis contohnya di Kalimantan Utara, proyek smelter di Indonesia bagian timur dan juga beberapa proyek lain di Jawa dan Sumatera. Ini yang mendorong demand bisa tumbuh lebih cepat lagi di masa-msaa mendatang,” ujarnya.

Dari sisi sebarannya, kosentrasi permintaan terbesar datang dari Jawa-Bali dan Sumatera yaitu sebesar 75%. Kondisi ini, menurit Andrianto, menguntungkan Semen Indonesia Group (SIG) yang memiliki posisi yang kuat di wilayah Jawa dan Sumatera, teruatama setelah akuisisi Holcim pada tahun 2019 dan bergabungnya Semen Baturaja (SMBR) pada akhir tahun 2022.

“Itu kenapa, walaupun over supply, tetapi relatively dari sisi utilisasi fasilitas kami boleh dibilang utilisasi fasilitas kami sudah bisa secara rata-rata itu di atas 70%. Bahkan di akhir tahun atau kuartal III dan kuartal IV itu bisa sampai sekitar 85-90% utilisasi. Belum lagi didukung oleh infrastruktur port yang mendukung pasar ekpsor.  Kami memiliki kapasitas untuk ekspor saat ini itu sampai dengan 8,5 juta, yang kami utilisasi dan optimalisasi secara penuh,” ujarnya.

Baca Juga :   Kinerja Masih Bagus, Semen Indonesia Tidak Tunda Pembayaran Kewajiban Jatuh Tempo

Kondisi konsentrasi perminataan yang terpusat di Jawa dan Sumatera ini, menurutnya tidak menguntungkan perusahaan seperti Conch yang berada di Indonesia bagian timur.

“Conch itu lokasinya di Indonesia bagian timur yang relatively kontributor terhadap market-nya itu relatif lebih kecil saat ini. Itu kenapa sekitar 50% kapsitas Conch tersebut dia gunakan untuk pasar ekspor. Begitu juga dengan pesaing yang lain. Jadi, secara relatif walaupun over supply, namun positioning kami di market itu sangat optimal saat ini,” ujarnya.

Leave a reply

Iconomics