Swasembada Gagal, Menteri Pertanian: Impor Beras Berpotensi Capai 5 Juta Ton pada Tahun 2024

1
215

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui swasembada beras di Indonesia terbukti gagal, sehingga Indonesia pun terpaksa mengimpor beras.

Ia mengingatkan krisis pangan berpotensi menganggu stabilitas sosial, ekonomi dan politik Indonesia.

Berbicara di hadapan Komisi IV DPR RI dalam acara Rapat Kerja (Raker), Senin (13/11), Amran mengatakan tahun 2023 ini Indonesia mengimpor beras sebanyak 3,5 juta ton dan diperkirakan akan terus naik pada tahun depan.

“Tahun ini Indonesia memutuskan untuk mengimpor 3,5 juta ton beras dan berpeluang mencapai 5 juta ton tahun 2024. Untuk itu perlu segera dilakukan upaya khusus percepatan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat,” ujar Amran.

Amran mengatakan impor beras dilakukan untuk mengamankan cadangan pangan pemerintah. “Kondisi ini tentunya berbahaya bagi ketahanan pangan dan ketahanan negara kita,” ujarnya.

Amran mengakui kebijakan impor ini dilakukan karena produksi di dalam negeri menurun akibat dampak el nino yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan.

“Dulu kita pernah swasembada, sekarang terpaksa harus impor. Produksi beras nasional periode 2022-2023 mengalami penurunan akibat ancaman el nino, dari sebelumnya 31 juta ton dan diperkirakan turun menjadi 30 juta ton pada tahun 2023,” ujarnya.

Baca Juga :   Kendati Belum Dapat Anggaran, Kementan Janji Selesaikan Masalah PMK di Indonesia

Menurut Amran pembangunan pertanian saat ini dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks, seperti el nino yang berdampak pada penurunan produksi.

Selain itu, konflik geopolitik juga menyebabkan terganggunya distribusi pangan dan adanya restriksi ekspor dari negara-negara produsen pangan.

Di sisi lain, tambahnya,  meningkatnya permintaan terhadap pangan pasca pandemi Covid-19 menyebabkan harga pangan semakin mahal yang dapat menodorong terjadinya darurat pangan global dan dapat berpotensi mengancam stabilitas sosial, ekonomi dan politik Indonesia.

1 comment

Leave a reply

Iconomics