Tiga Pertimbangan BI Menaikkan Suku Bunga Acuan, Apa Saja?
Gedung Bank Indonesia/Anadolu Agency
Pertumbuhan Ekonomi Diperkirakan Lebih Kencang
Beruntungnya dalam kondisi kenaikan harga energi dan pangan ini, ekonomi Indonesia diperkirakan masih tumbuh lebih baik. Hal ini memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk tetap menaikkan suku bunga acuan tanpa khwatir akan mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Perry mengatakan Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Indonesia akan terus melaju kencang. Pada triwulan kedua lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,44%, lebih tinggi dari perkiraan Bank Indonesia yang memperkirakan di 5,1%.
“Berbagai indikator menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan tiga 2022 ini juga tinggi, bahkan bisa lebih tinggi dari triwulan dua. Ini menunjukkan kekuatan permintaan dalam negeri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kita,” ujar Perry.
Perry mengungkapkan, Bank Indonesia memperkirakan pada triwulan ketiga 2022 ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,5%.
“Karena itu, secara keseluruhan tahun 2022 ini, pertumbuhan ekonomi kita akan bergerak bias ke atas dari kisaran 4,5% sampai 5,3%,” bebernya.
Menarik Investasi Portofolio untuk Menjaga Stabilitas Rupiah
Selain inflasi inti yang naik dan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan masih tumbuh kencang, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga acuan untuk menarik investasi portofolio masuk ke Indonesia, sehingga bisa menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Perry mengatakan kondisi global yang tidak menentu, ditambah bank sentral negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa yang menaikkan suku bunga, berdampak kepada terbatasnya aliran modal asing ke Indonesia dan menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.
Selain dengan menaikkan suku bunga, untuk menjaga stabilitas Rupiah, Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar valas baik spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) maupun operasi di pasar SBN sekunder. “Kami akan terus melakukan stabilisasi nilai tukar dengan triple intervention itu,”ujar Perry.
Perry menjelaskan, Bank Indonesia melakukan penjualan SBN bertenor pendek di pasar sekunder. Tetapi pada saat yang sama Bank Indonesia juga akan membeli SBN dari pasar sekunder untuk tenor-tenor jangka panjang.
Penjualan SBN di pasar sekunder yang bertenor pendek dilakukan agar imbal hasilnya menarik sehingga bisa menarik investasi portofolio ke dalam negeri. Investasi yang masuk ini akan memperkuat nilai tukar Rupiah.
Sementara itu, pembelian SBN dari pasar sekunder tenor jangka menengah dan panjang diharapkan akan membuat imbal hasilnya stabil, tidak naik, bahkan diupayakan turun sehingga bisa mendukung pemulihan ekonomi nasional bahkan juga bisa mengurangi beban pembiayaan fiskal melalui penerbitan SBN.
Halaman Berikutnya