Astra Agro Akan Perluas Peremajaan hingga 8.000 Ribu Hektare
PT Astra Agro Lestari (Tbk) menerapkan strategi peremajaan tanaman kelapa sawit atau replanting dengan bibit yang unggul. Upaya itu dilakukan untuk menunjukkan komitmen Astra Agro dalam mempertahankan kinerja produktivitas sawit dalam negeri.
Chief Executive Officer (CEO) Astra Agro Djap Tet Fa mengatakan, tanaman yang sudah berumur tua cenderung mengalami penurunan produktivitas. Karena itu, dibutuhkan peremajaan tanaman untuk tetap memastikan produktivitas sawit yang dihasilkan.
“Karena kalau tidak, kalau kita teruskan, maka masa depan (tanaman sawit) itu akan menjadi masalah. Produktivitas CPO (crude palm oil) akan menurun,” kata Djap dalam acara Talk to The CEO di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Kamis (31/10).
Sejauh ini, kata Djap, Astra Agro telah meremajakan tanaman sebesar 30% dari total tanaman sawitnya. Sisanya, sebesar 70% masih memasuki usia tanaman siklus kedua.
“Awal Oktober (2025) ini kita merayakan ulang tahun ke-37 Astra Agro. Berarti kalau misalnya satu siklus tanam sawit itu 25 tahun, maka kami sudah masuk siklus kedua. Siklus kedua artinya memang tanaman sudah sangat tua,” kata Djap.
Untuk mempercepat proses tersebut, ujar Djap, Astra Agro berencana memperluas peremajaan hingga mencapai 8.000 hektare. Program itu, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas CPO agar dapat memenuhi permintaan dalam negeri, dan luar negeri.
“Tentunya replanting yang kita pakai adalah replanting bibit unggul. Bibit unggul nomor 1 tentu yang memiliki yield lebih bagus. Itu sama seperti generasi anak-anak kita, dengan gizi yang bagus. Harapan kita mereka adalah bibit unggul. Di Sawit juga kita punya yield yang tinggi, supaya hasil produktivitasnya itu bagus,” ujar Djap.
Sebagai informasi, perusahaan dengan kode saham AALI itu telah menggelontorkan belanja modal (capex) Rp 250 miliar sepanjang Semester I/2025. Dari angka tersebut, sebesar 74% digunakan untuk peremajaan tanaman.
Kemudian sebesar 18% digunakan untuk keperluan pabrik, dan pelabuhan, dan sisanya 8% untuk keperluan non-tanaman. Secara keseluruhan, Astra Agro menetapkan anggaran belanja modal sebesar Rp 1,4 triliun-Rp 1,5 triliun di tahun 2025.