Dwimitra Ekatama Mandiri Bidik Posisi Pemain Pusat Data di Kawasan Asia Pasifik
Memasuki usia ke-25 tahun, PT Dwimitra Ekatama Mandiri membidik posisi sebagai salah satu pemain penting industri pusat data di kawasan Asia Pasifik. Dengan pengalaman pembangunan proyek pusat data sejak 2007 dengan total kapasitas 200 MW, Dwimitra berambisi membawa kapabilitas perusahaan di level yang lebih tinggi.
Chief Commercial Officer Dwimitra Ekatama Mandiri Oon Suciagung mengatakan, pihaknya sudah memiliki beberapa pekerjaan di luar Indonesia. Pekerjaan tersebut masih dalam lingkup proyek manajemen seperti konsultasi, dan engineering.
“Dwimitra akan menjadi salah satu pemain besar di industri pusat data di Indonesia, dan level Asia Pasifik,” kata Oon Suciagung dalam acara HUT ke-25 Dwimitra di Jakarta, Rabu (26/8).
Masih soal ekspansi, kata Oon, langkah menuju pasar regional telah dibangun sejak beberapa tahun terakhir. Dan salah satunya melalui kemitraan strategis dengan perusahaan penyedia layanan MEP asal India, Listenlights Pvt. Ltd.
“Kami melakukan kerja sama dengan Listenlights Pvt. Ltd. sejak 2024 melalui joint venture bernama Dwimitra Listenlights Indonesia. Ke depan, kami juga berencana melakukan ekspansi di level Asean, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam,” ujar Oon.
Dari sisi kesiapan dalam negeri, kata Oon, Indonesia memiliki posisi strategis dalam peta industri pusat data regional. Pertumbuhan ekonomi digital, komputasi awan, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor pendorong infrastruktur pusat data nasional.
Selain itu, tambah Oon, masuknya investasi global pun menjadi peluang besar bagi Indonesia. Meski demikian, peningkatan investasi perlu diimbangi dengan peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, dan perusahaan.
“Indonesia harus meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. Kita harus semakin kuat dalam teknologi, produktivitas dan efisiensi sehingga perusahaan nasional dapat bersaing secara sehat di pasar sendiri maupun di tingkat regional,” kata Oon.
Senada dengan itu, Ketua Tim Kerja Perumusan Strategi dan Kebijakan Peta Jalan Penyelenggaraan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Benny Elian menyebutkan, Indonesia berpotensi besar menjadi salah satu pusat data utama di Asean, dan Asia Pasifik.
Namun, kata Benny, kesiapan ekosistem saat ini masih terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia. Sementara itu, wilayah tengah dan timur cenderung membutuhkan penguatan, terutama dari sisi konektivitas, lahan, energi, dan infrastruktur pendukung lainnya.
“Karena itu, kami ingin pertumbuhan pusat data ke depan tidak hanya terpusat di Jakarta, Cikarang maupun Batam, tetapi juga mulai berkembang ke wilayah tengah dan timur Indonesia,” kata Benny.
Komdigi, lanjut Benny, sedang menyusun peta jalan data center yang terintegrasi dengan pengembangan jaringan kabel laut telekomunikasi. Integrasi tersebut diharapkan membuat pengembangan lokasi data center lebih terencana, baik dari sisi konektivitas, energi, lahan, maupun kebutuhan sumber daya lainnya.
“Harapannya, industri pusat data Indonesia dapat terus tumbuh secara kuat, tetapi tetap berkelanjutan,” kata Benny.