Jadi Calon Deputi Gubernur BI, Anwar Bashori: Kepercayaan Jadi Modal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Anwar Bashori memaparkan visi dan misi dalam fit and proper test calon Deputi Gubernur BI di Komisi XI DPR RI, Kamis (27/8/2026).
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Anwar Bashori menilai kepercayaan menjadi modal penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan berdampak pada kebutuhan pembiayaan investasi.
Hal tersebut disampaikan Anwar dalam fit and proper test calon Deputi Gubernur BI di Komisi XI DPR RI, Kamis (27/8/2026).
Anwar merupakan salah satu dari dua calon yang memperebutkan posisi Deputi Gubernur BI, bersama Solikin M. Juhro.
Keduanya berasal dari internal BI. Anwar saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Pengelolaan Uang, sedangkan Solikin menjabat sebagai Asisten Gubernur BI.
Dalam paparannya yang mengangkat tema “Dedikasi untuk Negeri, Integritas Tanpa Batas”, Anwar menempatkan kepercayaan sebagai salah satu fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Kami melihat kepercayaan sebagai modal pertumbuhan,” ujarnya.
Anwar menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan tercermin dalam posisi current account deficit. Kondisi tersebut berkaitan dengan kemampuan tabungan domestik dalam membiayai kebutuhan investasi di dalam negeri.
“Current account deficit memiliki arti: saving domestic kita tidak cukup membiayai investasi kita. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus mengandalkan pembiayaan eksternal,” ujarnya.
Kebutuhan pembiayaan eksternal tersebut dapat dipenuhi melalui berbagai sumber, seperti penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI), investasi portofolio, maupun other investment.
“Hal inilah yang kenapa dituntut kepercayaan. Karena dengan kepercayaan tersebut tentunya supaya investor masuk baik dengan FDI, portfolio investasi, dan other investment untuk mengisi gap daripada current account supaya pertumbuhan ekonomi ke depan tetap terjamin,” ujarnya.
Menurut Anwar, modal akan mencari peluang investasi, tetapi keberlanjutan aliran modal sangat bergantung pada terjaganya kepercayaan.
Sinergi BI dan Pemerintah
Dalam kerangka menuju Indonesia Maju 2045, Anwar menilai BI memiliki peran penting untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurutnya, mandat BI tidak hanya berkaitan dengan menjaga stabilitas, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Karena itu, kebijakan BI perlu bersinergi dengan kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan fiskal melalui APBN.
“Kebijakan dari Bank Indonesia tentunya harus bersinergi dengan kebijakan pemerintah terkait dengan fiskal APBN dan yang lainnya untuk membuat kondusifitas perekonomian sehingga mampu menciptakan pertumbuhan sektor real dan tentunya penciptaan lapangan kerja,” ujarnya.
Selain menjaga kepercayaan investor, Anwar menilai Indonesia perlu memperluas sumber-sumber pertumbuhan ekonomi melalui penguatan daerah dan ekonomi kerakyatan.
Ia mendorong daerah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru dengan mengakselerasi potensi daerah menjadi investasi dan aktivitas ekonomi.
“Indonesia akan semakin kuat ketika sumber-sumber pertumbuhan terakselerasi di seluruh daerah,” ujarnya.
Anwar juga menyoroti peran UMKM dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Meski memiliki peran besar dalam perekonomian domestik, ia mencatat kontribusi UMKM terhadap ekspor Indonesia masih sekitar 15%.
Karena itu, peningkatan daya saing dan keterhubungan UMKM dengan rantai nilai global perlu terus didorong.
Menurut Anwar, penguatan UMKM juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur ekonomi Indonesia sehingga sumber pertumbuhan tidak hanya bergantung pada sektor tertentu.
Anwar juga memasukkan penguatan ekonomi syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa ekonomi syariah perlu dipandang sebagai sebuah ekosistem ekonomi, bukan semata-mata isu keagamaan.
Ekosistem tersebut mencakup keuangan komersial, keuangan sosial, korporasi, industri halal, halal value chain, infrastruktur, input produksi, distribusi, hingga perdagangan.
“Sehingga inilah bagian daripada bagaimana mendorong ekonomi keuangan syariah di Indonesia menjadi salah satu sumber pertumbuhan kita,” ujarnya.
Anwar menilai berbagai capaian pengembangan ekonomi syariah dalam satu dekade terakhir dapat menjadi fondasi untuk memperbesar kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Perkuat Kedaulatan Rupiah
Dalam paparannya, Anwar juga memberikan perhatian pada sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah. Menurutnya, perkembangan transaksi digital tidak berarti menghilangkan kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai.
Ia menilai pembayaran tunai dan nontunai harus ditempatkan sebagai instrumen yang saling melengkapi.
“Kalau kita bicara tunai dan non-tunai, standarnya adalah kita bukan saling substitusi. Ini adalah komplementer,” ujarnya.
Anwar menekankan bahwa BI tetap memiliki mandat memastikan ketersediaan uang rupiah dengan kualitas yang baik di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini penting karena sebagian besar masyarakat masih memiliki preferensi menggunakan uang tunai.
“Ternyata berdasarkan survei kami 77% penduduk Indonesia, masyarakat Indonesia preferensi yang masih menggunakan tunai,” ujarnya.
Karena itu, menurut Anwar, kebijakan sistem pembayaran perlu memperhatikan karakteristik setiap wilayah, termasuk daerah yang penetrasi digitalnya masih rendah dan infrastruktur pendukungnya belum memadai.
Anwar juga menyoroti pentingnya kemandirian pasokan bahan baku uang rupiah. Menurutnya, Indonesia membutuhkan sekitar 6,5 miliar lembar uang kertas setiap tahun, sementara sebagian kebutuhan bahan baku masih bergantung pada impor.
Ketergantungan tersebut dinilai memiliki risiko di tengah ketidakpastian geopolitik global. Karena itu, Anwar menyebut BI bersama lembaga terkait tengah menginisiasi penguatan kemandirian pasokan kertas uang.
Selain pasokan, Anwar menyoroti distribusi uang rupiah ke seluruh wilayah Indonesia. Dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, BI membutuhkan sinergi dengan berbagai institusi, termasuk TNI AL, untuk memastikan rupiah tersedia hingga wilayah terpencil.
Fit and proper test ini digelar untuk mengisi sejumlah posisi di Bank Indonesia pasca Perry Warjiyo diumumkan mengundurkan diri sebagai Gubernur BI pada 27 Juli 2026.
Presiden Prabowo Subianto kemudian mengusulkan ke DPR RI, Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI. Destry saat ini menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI sekaligus pelaksana tugas Gubernur BI.
Presiden juga mengusulkan Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI. Posisi Deputi Gubernur yang akan ditinggalkan Aida kemudian diperebutkan oleh dua kandidat, yakni Solikin M. Juhro dan Anwar Bashori.