Pemerintah Proyeksikan Target Emisi Nol Bersih Lebih Cepat di 2050
Pemerintah Indonesia memproyeksikan target emisi nol bersih (NZE), akan tercapai 10 tahun lebih awal pada 2050. Volatilitas harga energi global yang memengaruhi perekonomian, menjadi momen kuat untuk mendorong transisi energi.
Koordinator Rencana dan Laporan Sekretariat Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Widya Adi Nugroho menjelaskan, kebijakan tentang energi perlu dilakukan dengan hati-hati. Pasalnya hal tersebut berdampak langsung ke ekonomi dan sosial masyarakat.
Untuk itu, kata Widya, pemerintah akan membawa seluruh masukan dalam forum diskusi untuk dikaji dan ditindaklanjuti melalui kebijakan.
“Saat ini pemerintah kita mendorong transisi energi yang berkeadilan. Mencapai itu, kebijakan yang dirancang tidak bisa dilihat dari dari sisi energi saja, tetapi juga bagaimana dampaknya ke ekonomi dan sosial,” kata Widya dalam sesi diskusi acara Knowledge & Innovation Exchange (KIE) di Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Untuk mengetahuinya secara pasti, akademisi Australian National University Budy Resosurdarmo mengatakan, diperlukan pengembangan model yang mampu menguji dampak kebijakan kepada masyarakat.
Berdasarkan hasil pengujian atas dampak kebijakan pemerintah ke masyarakat, tim peneliti Australia-Indonesia menemukan fakta bahwa semakin cepat capaian transisi energi menuju NZE. Maka akan semakin menekan kesejahteraan masyarakat, dan meningkatkan kemiskinan.
Dampak tersebut, kata Budy, semakin berat dirasakan oleh kelompok rumah tangga rentan, seperti kepala keluarga perempuan, anggota keluarga disabilitas, dan anggota keluarga yang terdiri dari lansia, serta anak-anak.
Salah satu anggota riset Alin Halimatussaidah mengatakan, temuan tentang dampak ketimpangan kesejahteraan dapat diselesaikan dengan transisi energi yang adil. Intervensi pemerintah dibutuhkan melalui stimulus fiskal, dan daur ulang pendapatan dari penerapan harga karbon.
“Penerapan harga karbon yang efektif dapat mengembalikan kesejahteraan rumah tangga yang tergolong rentan tadi seperti semula,” ujar Alin.
Sebagai informasi, Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit merupakan inisiatif kolaborasi di sektor pengetahuan dan inovasi kemitraan Australia dan Indonesia. Inisiasi tersebut digagas oleh Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia (Koneksi).